Ulangan ( 17 )
Ulangan ( 18 )
Ulangan ( 19 )
Ulangan ( 20 )
Ulangan ( 21 )
Ulangan ( 22 )
Ulangan ( 23 )
Ulangan ( 24 )
Ulangan ( 25 )
Ulangan ( 26 )
Ulangan ( 27 )
Ulangan ( 28 )
Ulangan ( 29 )
Ulangan ( 30 )
"Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda… Juga janganlah mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak… haruslah ia menyuruh menulis baginya salinan hukum ini… haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya…" [ Ulangan 17:16-19 ].
"Bukankah Salomo, raja Israel, telah berbuat dosa karena hal semacam itu ? Walaupun diantara begitu banyak bangsa tidak ada seorang raja seperti dia, yang dikasihi Allahnya dan diangkat oleh Allah itu menjadi raja seluruh Israel, namun diapun terbawa kedalam dosa oleh perempuan-perempuan asing itu "[ Nehemia 13:26 ].
Telah kita ketahui bahwa seorang bapa haruslah berfungsi sebagai imam, raja, dan nabi. Renungan kita saat ini terutama ditujukan kepada seorang bapa, yang berfungsi sebagai raja dalam keluarganya.
Didalam kitab Ulangan 17 diuraikan tentang peraturan bagi seorang raja. Peraturan ini dibuat terutama agar seorang raja tidak menyimpang dari jalan Tuhan, agar ia dapat lama memerintah, ia dan juga anak-anaknya ( ayat 20 ). Peraturan ini, yang juga merupakan peringatan bagi seorang raja, adalah sebagai berikut. Pertama, jangan memelihara banyak kuda. Didalam Alkitab, kuda menjadi simbol dari kuasa (power). Seorang raja diharapkan tidak memiliki kekuatan yang terlalu besar. Kedua, jangan mempunyai banyak isteri. Ini berarti seorang raja harus menguasai diri dalam hal yang berkaitan dengan wanita. Ketiga, jangan mengumpulkan emas dan perak terlalu banyak. Artinya, seorang raja diharapkan tidak memiliki harta yang terlalu berlimpah. Ada orang yang meringkaskan peraturan ini dengan istilah 3-'ta'. Yang dimaksud 3-'ta' adalah harta, takhta (kekuasaan), dan wanita.
Semua peraturan ini dibuat karena Tuhan mengenal hati manusia. Hati manusia pada dasarnya tidak kuat menahan tarikan-tarikan dari dunia ini. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa semakin besar suatu benda, maka semakin kuat juga daya tariknya. Semakin besar harta, semakin besar pula daya tariknya, begitu pula dengan kekuasaan. Karena itu, Ulangan 17 memperingati para raja agar selalu membaca dan mengingat peraturan Tuhan ini seumur hidupnya, supaya ia belajar takut akan Tuhan.
Kita akan melihat contoh seorang bapa, yang juga seorang raja yang sangat dikasihi oleh Tuhan, Allahnya, yaitu Salomo. I Raja-Raja 11:9 menegaskan bahwa hati Salomo telah menyimpang dari Tuhan, Allah Israel. Semua ini disebabkan Salomo mencintai banyak perempuan-perempuan asing, yang tentunya menyembah dewa-dewi mereka. Salomo tidak langsung jatuh dalam penyembahan berhala pada waktu ia mengawini perempuan-perempuan asing ini. Tetapi dengan berjalannya waktu, dan Salomo semakin menjadi tua, maka iapun jatuh dalam penyembahan berhala. Nehemia 13:26 bersaksi bahwa Salomo yang begitu kuat dan dikasihi Allahnya, akhirnya terseret juga kedalam dosa.
Bagaimana dengan para bapa dalam keluarga Kristen saat ini ? Mungkin ada bapa-bapa yang menyatakan bahwa ia tidak mempunyai kecenderungan kearah sana. Mungkin ia berpikir, 'aku tidak akan jatuh seperti Salomo'. Tetapi sebaiknya kita, para bapa, berhati-hati sebelum menegaskan sesuatu. Jika seandainya Tuhan memberikan harta dan kekuasaan seperti yang telah Ia berikan pada Salomo, apakah hati kita senantiasa melekat pada Tuhan sampai pada akhirnya ? Lebih baik kita belajar menjaga hati kita terhadap 3-'ta' ini dari pada mempercayai diri sendiri yang belum tentu teruji.
"Imam-imam orang Lewi, seluruh suku Lewi, janganlah mendapat bagian milik pusaka bersama-sama orang Israel; dari korban api-apian kepada TUHAN dan apa yang menjadi milikNya harus mereka mendapat rezeki " [ Ulangan 18:1 ].
"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu kedalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu… " [ Maleakhi 3:10 ].
"Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar " [ I Timotius 5:17 ].
Didalam hukum Musa, Allah menetapkan suku Lewi sebagai yang berhak menerima perpuluhan dari seluruh suku Israel lainnya. Karenanya, suku Lewi tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama orang Israel. Namun demikian, suku Lewi mendapat hak untuk mendekati Allah Israel dan melayaniNya. Demikianlah peraturan yang berlaku dalam keluarga Yakub.
Apakah kita dapat menerapkan peraturan Musa ini kedalam orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus ? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, baiklah kita mengingat apa yang tertulis didalam II Timotius 2:15, "…yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu ". Terjemahan harafiah dari ayat diatas adalah rightly dividing the word of the truth. Artinya, kita perlu belajar memilah-milah perkataan kebenaran itu sesuai dengan maknanya. Peraturan Musa adalah perkataan kebenaran, namun kita harus memilahnya sedemikian sehingga kita memahami bahwa, pertama, peraturan Musa hanya berlaku bagi keluarga Yakub. Kedua, peraturan Musa dapat menjadi pelajaran bagi kita saat ini, dan dapat kita terapkan kedalam kehidupan kita sepanjang kita mengetahui bahwa, "… semuanya ini (peraturan-peraturan Musa) hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus ( Kolose 2:17 ). Jadi, kita tidak dapat menerapkan peraturan-peraturan Musa begitu saja tanpa memilah-milah perkataan kebenaran itu dengan benar.
Peraturan Musa tentang perpuluhan tidak dapat diterapkan begitu saja kedalam komunitas kristen atau orang-orang yang percaya Tuhan Yesus. Jika kita menyelidiki gereja mula-mula, baik yang dipimpin Petrus (komunitas Yahudi), maupun yang dipimpin Paulus (komunitas bangsa-bangsa lain), maka kita akan tahu bahwa mereka tidak menerapkan peraturan perpuluhan. Bukan berarti mereka tidak suka memberi, namun mereka memberi sesuai dengan kerelaan dan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus.
Kalau demikian, bagaimana dengan keluarga dimana sang bapa melayani Tuhan sepenuh waktu ? Apakah ia tidak berhak, sebagai "suku Lewi", untuk menarik perpuluhan dari Umat Tuhan ? Yang jelas, didalam gereja mula-mula, kita tidak menemukan indikasi bahwa para rasul atau Paulus atau para penatua, menarik perpuluhan dari Umat Tuhan. Mereka semua hidup oleh iman kepada Tuhan yang memelihara mereka. Mereka tentu berhak menerima persembahan dari Umat Tuhan, sebagai orang yang telah bekerja, tetapi mereka tidak mengenal istilah gaji tetap dan juga perpuluhan. Paulus kadang-kadang menerima persembahan dari gereja tertentu, atau menerima bantuan dari orang-orang tertentu, tetapi ia tidak pernah menerima gaji atau perpuluhan. Kadang-kadang Paulus juga membuat tenda untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan teman-teman seperjalanannya. Pada intinya, mereka semua hidup dengan iman, dan memandang kepada Tuhan yang memenuhi kebutuhan mereka. Bekerja mencari uang, sambil memberitakan firman Tuhan dengan cuma-cuma, merupakan hal yang sangat mulia bagi pelayan Tuhan gereja mula-mula.
Semoga para bapa yang melayani Tuhan saat ini mencontoh para pelayan gereja mula-mula yang memiliki iman yang hidup kepada Tuhan.
"maka engkau harus mengkhususkan tiga kota di dalam negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki… supaya setiap pembunuh dapat melarikan diri kesana " [ Ulangan 19:2-3 ].
"Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu…" [ Ulangan 33:27 ].
"Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini " [ Kis. 18:10 ].
Allah memerintahkan keluarga Yakub untuk memilih beberapa kota menjadi kota-kota perlindungan, supaya pembunuh yang telah membunuh dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke kota-kota perlindungan. Perlindungan bagi pembunuh ini dimaksud agar penuntut balas tidak melakukan tindakan balasan dengan membunuh si pembunuh sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili (Bil. 35:12). Peraturan yang Allah berikan ini menunjukkan kasih dan keadilanNya supaya jangan tercurah darah orang yang tidak bersalah, sehingga hutang darah melekat pada keluarga Yakub.
Memang kota-kota perlindungan ini berguna bagi orang yang telah melakukan pembunuhan dengan tidak sengaja. Tetapi sesungguhnya, setiap anggota keluarga Yakub membutuhkan perlindungan dari berbagai bahaya. Dan karena kasihNya, Allah menyediakan DiriNya sendiri untuk menjadi tempat perlindungan bagi umatNya, seperti tertulis pada ayat kita diatas. Berbahagialah orang yang mencari perlindungan pada Tuhan, Allah Israel.
Ada beberapa hal lagi yang dapat menjadi suatu perlindungan bagi kita. Nehemia 8:11 berkata bahwa sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu. Amsal 14:32 berkata bahwa ketulusan orang benar menjadi perlindungannya. Pengkhotbah 7:12 berkata bahwa perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang, dan bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya.
Perlindungan kita bukan saja hal-hal yang telah disebutkan diatas. Ada satu perlindungan yang disebut dalam Kisah para rasul 18:10, yaitu suatu perlindungan yang kita namakan perlindungan tubuh Kristus. Ketika Paulus berada di kota Korintus, Allah memerintahkannya agar terus memberitakan firman Tuhan, dan menegaskan bahwa tidak akan ada yang menganiaya dirinya karena ada banyak orang percaya di kota Korintus. Dari pernyataan Allah ini, jelas bahwa tubuh Kristus di kota Korintus memberikan suatu perlindungan bagi Paulus dari tangan para penganiaya. Kehadiran tubuh Kristus dalam suatu kota akan memberikan perlindungan secara rohani kepada setiap anak Tuhan. Ini suatu fakta yang Allah nyatakan sendiri.
Apakah masih ada jenis perlindungan lain selain yang telah kita sebutkan diatas ? Kami yakin bahwa keluarga orang percaya adalah suatu perlindungan rohani bagi setiap anggotanya. Allah memberikan keluarga kepada setiap orang percaya untuk menjadi suatu perlindungan baginya. Kita lihat, sebagai contoh, keluarga Nuh memberikan perlindungan bagi setiap anggotanya dari bahaya air bah. Secara khusus, jika setiap anggota keluarga berada dalam fellowship dan ikatan yang erat, maka keluarga ini akan memberikan perlindungan yang sangat kuat bagi setiap anggotanya.
Ada beberapa kasus dimana seorang bapa yang melayani Tuhan, namun jatuh kedalam dosa. Hal ini disebabkan karena perlindungan keluarganya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena ikatan dan fellowship diantara anggota keluarga tidak kuat, maka perlindungannya juga menjadi lemah. Itu sebabnya sangat penting membangun ikatan dan fellowship yang kuat agar kita mendapat perlindungan yang semestinya didalam keluarga kita. Semoga setiap anggota keluarga berperan aktif dalam membangun ikatan dan fellowship yang kuat dalam keluarga.
"Janganlah menggeser batas tanah sesamamu yang telah ditetapkan oleh orang-orang dahulu di dalam milik pusaka yang akan kau miliki di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milikmu " [ Ulangan 19:14 ].
"Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing " [ Kejadian 49:28 ].
"Jawab Yohanes: 'Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga ' [ Yohanes 3:27 ].
Allah memberkati keluarga Yakub dengan memberikan Tanah Perjanjian, sesuai dengan janji yang telah diucapkanNya kepada Abraham. Masing-masing dari anggota keluarga Yakub mendapat sebagian dari Tanah Perjanjian sesuai yang telah ditetapkan sebelumnya, dan ini menjadi milik pusaka bagi mereka. Masing-masing anggota keluarga Yakub dilarang menggeser batas tanah sesamanya, karena dengan berbuat demikian berarti mereka telah mengambil berkat orang lain. Masing-masing anggota keluarga Yakub diajar Tuhan untuk bersyukur dan puas dengan berkat yang diuntukkan bagi mereka.
Memang masing-masing anggota keluarga Yakub memiliki berkat yang berbeda satu dengan lainnya. Ketika Yakub memberkati anak-anaknya, ia memberikan berkat yang berbeda untuk mereka masing-masing, sesuai dengan ayat kita diatas (Kejadian 49:28). Keberbedaan ini tidak harus membuat mereka saling membandingkan apalagi menjadi iri hati, tetapi maksud keberbedaan ini adalah supaya mereka saling melengkapi satu dengan lainnya.
Menggeser batas tanah sesama bukan saja mengambil berkat orang lain, tetapi juga mencoba meraih berkat Tuhan dengan cara-cara sendiri. Sementara itu, ayat kita diatas menegaskan bahwa, "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga ". Jadi, sebenarnya, tidak ada sesuatu apapun yang dapat kita raih dengan kekuatan sendiri jika itu tidak diberikan dari sorga. Kalaupun nampaknya ada sesuatu yang dapat kita peroleh menurut cara-cara kita, maka semua itu tidak akan kita miliki selamanya. Mungkin juga kita tidak diberikan anugerah untuk menikmati apa yang kita dapatkan itu.
Semua hal ini meneguhkan peran doa dalam kehidupan kita. Jika kita memahami semua uraian diatas, maka kita akan sadar betapa sia-sianya meraih berkat Tuhan dengan cara-cara dan kekuatan sendiri. Kita akan berhenti berjuang didalam kedagingan kita, dan mulai berdoa dengan pemahaman bahwa hanya sesuatu yang berasal dari Tuhanlah yang dapat kita nikmati dan miliki selamanya.
Keluarga kita akan belajar puas dan bersyukur dengan segala apa yang telah Tuhan berikan. Tidak akan ada perasaan iri terhadap keluarga lain dengan berkat-berkat yang diberikan Tuhan bagi mereka. Tidak akan ada keinginan untuk membandingkan keluarga kita dengan keluarga-keluarga lainnya, karena kita sadar bahwa setiap keluarga memiliki berkatnya tersendiri sesuai kerelaan Tuhan. Tidak akan ada juga usaha-usaha untuk "merampas" berkat orang lain. Keluarga kita tidak akan "menggeser batas tanah" keluarga-keluarga lainnya. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang tenang didalam berkat Tuhan, dan beristirahat dalam Tuhan. Amin.
"Apabila seseorang mempunyai anak laki-laki yang degil dan membangkang, yang tidak mau mendengarkan perkataan ayahnya dan ibunya, dan walaupun mereka menghajar dia, tidak juga ia mendengarkan mereka… maka haruslah semua orang sekotanya melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati…" [ Ulangan 21:18, 21 ]. "…Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki… Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. …anak bungsu itu …pergi ke negeri yang jauh. Disana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya" [ Lukas 15:11-13 ].
Didalam Ulangan pasal 21 yang telah dikutip diatas, kita diperhadapkan dengan suatu peraturan yang berlaku bagi keluarga Yakub mengenai anak laki-laki yang degil dan membangkang. Jika ayahnya maupun ibunya telah mendisiplin anak ini, namun ia tidak mau juga mendengarkan perkataan orang tuanya, maka haruslah anak ini diserahkan kepada para tua-tua kotanya, dan haruslah semua orang sekotanya melempari anak ini dengan batu, sehingga ia mati. Maksud dari peraturan ini adalah agar sesuatu yang jahat itu dihapuskan dari tengah-tengah keluarga Yakub.
Selanjutnya, di dalam Lukas 15, Tuhan Yesus menceritakan tiga perumpamaan sebagai jawaban terhadap sungut-sungut orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena Yesus menerima dan makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa (ayat 1-2). Jawaban Yesus, dalam perumpamaan, mengungkapkan bahwa Allah yang adalah Keluarga Ilahi yang penuh kasih itu tidak menghendaki seorangpun binasa. Kasih Allah sebagai Anak dinyatakan dengan cerita tentang pemilik domba yang meninggalkan 99 ekor dombanya yang tidak sesat serta mencari seekor yang hilang sampai dapat (ayat 4-7). Kasih Allah sebagai Ibu dinyatakan dengan cerita tentang seorang perempuan yang mempunyai 10 dirham namun kehilangan 1 di antaranya, dan Ia mencarinya sampai didapatkan kembali (ayat 8-10). Kasih Allah sebagai Bapa dinyatakan dengan cerita tentang anak yang hilang dan didapatkan kembali (ayat 11-32).
Didalam Lukas pasal 15, khususnya perumpamaan tentang anak yang hilang, kita melihat kasih Allah dinyatakan dengan penuh kelembutan dan toleransi. Ketika anak yang memberontak dan tidak suka tinggal di rumah untuk bersekutu dengan bapanya ini meminta bagian hartanya, maka bapanya dengan penuh toleransi menurut saja dan membagikan hartanya diantara mereka. Dan ketika anak yang membangkang ini pulang kerumah, bapanya menerima dia dengan sukacita dan bahkan mengadakan pesta baginya. Kalau kita membandingkan Lukas 15 dengan Ulangan 21 diatas, maka akan terlihat perbedaan yang cukup menyolok. Ulangan 21 dengan tegas menghapuskan pemberontakkan sang anak atau sesuatu yang jahat itu dengan hukuman mati, tetapi Lukas 15 memberi kesempatan kasih Allah menjamah anak yang hilang ini sehingga ia bertobat dan kembali ke rumah. Mengapa terjadi perbedaan ini ? Memang perlakuan Allah terhadap manusia pada suatu periode atau zaman tertentu berbeda-beda sesuai dengan rencana penyelamatan dan hikmatNya sendiri. Perlakuan yang berbeda inilah yang kita kenal sebagai dispensasi. Kita tidak membahas hal ini lebih jauh, tetapi kita akan melihat bahwa cerita dalam Ulangan 21 dan Lukas 15 justru saling melengkapi, dan ini menjadi pelajaran bagi kita dalam mendidik anak-anak kita.
Ketika anak-anak masih kecil, mereka harus dididik dengan tongkat dan peraturan-peraturan dari luar. Tetapi setelah periode itu berlalu, mereka harus disentuh dengan Kasih Bapa, yang pada gilirannya akan mengubah mereka dari dalam. Kita tidak mungkin menjaga anak-anak kita yang beranjak remaja dengan tongkat dan peraturan-peraturan dari luar. Hanya Kasih Bapa yang dapat menjaga mereka dari dalam. Jika kita sebagai orang tua menerapkan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Ulangan 21 dan Lukas 15, maka anak-anak kita akan bertumbuh menjadi orang yang menghormati orang tua.
"Sebab Tuhan, Allahmu, berjalan dari tengah-tengah perkemahanmu untuk melepaskan engkau dan menyerahkan musuhmu kepadamu; sebab itu haruslah perkemahanmu itu kudus, supaya jangan Ia melihat sesuatu yang tidak senonoh di antaramu, lalu berbalik dari padamu " [ Ulangan 23:14 ].
Sesuai dengan ayat kita diatas bahwa Tuhan, Allah Israel, berjalan di tengah-tengah perkemahan keluarga Yakub, dan karenanya Ia menuntut agar perkemahan mereka itu kudus. Tuhan berjanji pada keluarga Yakub bahwa Ia akan melepaskan keluarga Yakub dari semua musuh-musuhnya, jika keluarga Yakub menampilkan kekudusannya dengan memelihara berbagai peraturan yang disampaikanNya.
Saat ini kita akan merenungkan berbagai peraturan yang tertulis dalam Ulangan pasal 22 sampai dengan pasal 25. Semua peraturan ini dikenakan atau berlaku pada keluarga Yakub, karena Tuhan, Allah pencipta langit dan bumi, telah memisahkan keluarga Yakub untuk maksud penyelamatan dunia ini. Semua peraturan ini menunjukkan betapa Tuhan sangat memperhatikan detail kehidupan keluarga Yakub. Peraturan ini dibuat mulai dari kehidupan perkawinan, hubungan antar anggota keluarga Yakub, hubungan keluarga Yakub dengan bangsa-bangsa tertentu, soal perkemahan ("rumah"), sampai berbagai peraturan yang nampaknya kecil seperti larangan seorang perempuan memakai pakaian laki-laki dan sebaliknya.
Sebelum kita menguraikan beberapa peraturan ini serta menerapkannya pada keluarga kita, perlu selalu kita ingat bahwa peraturan ini hanya berlaku bagi keluarga Yakub. Jika kita akan menerapkannya, maka penerapannya harus mengikuti prinsip umum bahwa Perjanjian Lama merupakan lambang atau bayangan, sedangkan Perjanjian Baru merupakan realitanya, seperti tertulis dalam Kolose 2:17, "semuanya ini (berbagai peraturan) hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus ".
Sekarang kita akan melihat peraturan tentang perkawinan, khususnya tentang keperawanan (22:13-21). Kita tidak dapat menerapkan peraturan ini secara hurufiah, sebab jika kita melakukannya, maka kita harus melempari seorang perempuan dengan batu sampai mati, jika ia kedapatan tidak perawan lagi ketika ia kawin (ayat 20-21). Tetapi ada tertulis dalam II Korintus 11:2, "… untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus ". Artinya, keluarga kita diharapkan berada dalam kondisi "perawan" dihadapan Kristus, yaitu tidak menerima benih apapun selain benih firman Allah. Kondisi suci seperti inilah yang dituntut dari kita sebagai mempelai Kristus.
Demikian juga kita melihat ada peraturan bahwa seorang perempuan tidak boleh mengenakan pakaian laki-laki dan sebaliknya (22:5). Pakaian dalam Alkitab melambangkan perbuatan atau juga pelayanan, fungsi dan jabatan seseorang. Didalam keluarga, peran seorang suami sebagai kepala rumah tangga, dan isteri sebagai penolong, jangan sampai dicampur-adukkan. Didalam gereja, fungsi kepemimpinan dan peran seseorang yang menentukan pengajaran, juga tidak sewajarnya dijalankan oleh seorang perempuan. Walaupun dalam Kristus tidak ada laki-laki maupun perempuan, tetapi peran, fungsi, dan jabatan laki-laki dan perempuan tetap harus dibedakan. Sekali lagi, didalam keluarga Kristen, fungsi suami sebagai pemimpin harus jelas dan harus didukung oleh isteri.
Semoga keluarga-keluarga Kristen dapat menerapkan berbagai peraturan dengan benar, dan karenanya memelihara kekudusannya dihadapan Tuhan.
"Inilah berkat yang diberikan Musa… Biarlah Ruben hidup dan jangan mati, tetapi biarlah orang-orangnya sedikit jumlahnya " [ Ulangan 33:1,6 ].
"Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya… Ruben…engkaulah yang terutama dalam keluhuran…tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu [ Kejadian 49:1,3,4 ].
Saat ini kita akan melihat berkat yang diberikan Musa kepada anak-anak dalam keluarga Yakub. Ruben adalah anak sulung Yakub, kekuatan dan permulaan kegagahannya. Jadi Ruben sebenarnya adalah yang terutama dalam keluhuran,dan memiliki hak kesulungan. Tetapi karena Ruben telah melukai Yakub dengan menaiki tempat tidur ayahnya, maka Yakub menegaskan bahwa di kemudian hari Ruben tidak lagi menjadi yang terutama. Semua ini dinyatakan Yakub sebelum ia meninggal (Kejadian 49:3-4).
Tetapi kita lihat bagaimana Musa memberkati Ruben dengan berkata, "Biarlah Ruben hidup dan jangan mati ". Yakub berbicara dari kenyataan sejarah bahwa memang Ruben telah bersalah, tetapi Musa berbicara dari sisi Perjanjian Allah yang telah diikatNya dengan keluarga Yakub bahwa Ia akan menjadi Allah mereka dan akan memberkati. Itu sebabnya, Musa menegaskan dan juga memberkati agar Ruben hidup dan jangan mati. Namun demikian, karena memang Ruben telah bersalah, maka Musa juga mengatakan agar Ruben berjumlah sedikit saja. Bagi keluarga Yakub, jumlah yang banyak menyatakan berkat yang banyak juga. Tetapi Ruben, sekalipun tetap diberkati, namun jumlahnya sedikit saja.
Hal ini mengingatkan kita pada Galatia 6:7 yang berbunyi demikian, "Jangan sesat ! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya ". Ruben telah menabur apa yang jahat terhadap ayahnya, maka sekalipun ia diberkati, ia tetap harus menuai apa yang ditaburnya itu. Barangkali, Ruben harus menuai sesuatu yang lebih berat dari pada sekedar berjumlah sedikit saja, seandainya Allah menimpakan tuaian yang setimpal dengan yang ditaburnya. Tetapi seperti tertulis dalam Mazmur 103:10, "Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita ", demikian juga Allah tidak membalaskan kepada Ruben setimpal dengan perbuatannya. Inilah kemurahan hati Allah, yang telah mengikat PerjanjianNya dengan keluarga Yakub.
Dalam kaitan dengan uraian diatas, kita teringat kepada cerita Daud yang telah menabur yang jahat dalam kasus Batsyeba (II Samuel 11 dan 12). Ketika itu, nabi Natan menegur Daud dengan menceritakan suatu kisah tentang orang kaya yang mengambil kambing domba satu-satunya dari si miskin untuk disembelih dan diberikan kepada tamunya. Daud menjadi sangat marah dan berkata bahwa ia harus dihukum 4 kali lipat karena dosanya. Natan berkata bahwa Daud melakukan dosa yang sama, dan karenanya sesuai perkataan Daud sendiri, maka ia harus menanggung akibat 4 kali lipat, yaitu pedang tidak akan menyingkir dari keturunannya, malapetaka akan datang dari keluarganya, Daud akan dipermalukan perihal isteri-isterinya, dan anak yang dilahirkan Batsyeba akan mati. Seandainya Daud tidak marah karena cerita nabi Natan, dan berkata bahwa orang yang bersalah harus menanggung 2 kali lipat, mungkin Tuhan juga akan membalaskan kesalahan Daud 2 kali lipat saja. Artinya, jika kita bersikap murah hati terhadap kesalahan orang lain, Tuhanpun akan bermurah hati terhadap kesalahan kita sendiri.
Dalam kehidupan kita sendiri, mungkin kita telah banyak melukai orang tua kita, khususnya ayah kita. Memang kita telah diberkati Tuhan karena PerjanjianNya yang disahkan oleh darah Yesus, tetapi baiklah kita bersikap murah hati terhadap kesalahan orang lain agar Tuhan juga bermurah hati terhadap kesalahan kita, sehingga akibat yang harus kita tanggung menjadi sangat ringan.
"Tentang Lewi ia berkata: 'Biarlah Tumim dan Urim-Mu menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi… Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu; mereka mengajarkan peraturan-peraturan-Mu kepada Yakub, hukum-Mu kepada Israel; mereka menaruh ukupan wangi-wangian di depan-Mu dan korban yang terbakar seluruhnya di atas mezbah-Mu " [ Ulangan 33:8-10 ].
"Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan… Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel " [ Kejadian 49:5, 7 ].
Saat ini kita akan merenungkan perjalanan keluarga Lewi, dan juga Simeon. Ketika Yakub akan meninggal, ia memberkati anak-anaknya dan juga menyatakan apa yang akan mereka alami di kemudian hari ( Kej 49:1, 28 ). Tetapi berkat yang diuntukkan bagi Simeon dan Lewi merupakan suatu bentuk disiplin, karena mereka telah menggunakan alat kekerasan pada peristiwa dimana Dina dilarikan oleh Sikhem ( Kej. 34 ). Tindakan kekerasan Simeon dan Lewi telah membawa Yakub beserta seluruh keturunannya berada dalam keadaan bahaya, karena dapat diserang oleh seluruh penduduk sekitar mereka. Hanya oleh pertolongan tangan Tuhan saja, Yakub beserta keturunannya dapat berangkat ketempat lain, dan tidak dikejar oleh penduduk kota-kota sekitar mereka (Kej. 35:5).
Karena peristiwa ini, Simeon dan Lewi menerima disiplin yang membuat mereka tidak mendapat wilayah di tanah Perjanjian. Simeon sebenarnya direncanakan mendapat bagian wilayah disamping Yehuda, namun karena disiplin yang harus diterimanya, Simeon akhirnya terserak dan membaur dengan Yehuda, dan orang tidak dapat berkata bahwa wilayah ini adalah bagian Simeon; semuanya telah menjadi wilayah Yehuda. Tepat seperti yang telah dikatakan Yakub bahwa, "… Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel ". Simeon telah terserak dan terbagi-bagi kedalam keluarga Yehuda.
Bagaimana dengan keluarga Lewi ? Lewi juga tidak mendapat wilayah atau milik pusaka di tanah perjanjian. Tetapi hal ini terjadi bukan saja disebabkan disiplin yang harus diterima Lewi, melainkan juga karena Allah-lah yang menjadi milik pusaka Lewi, karena keluarga Lewi telah mengikuti Tuhan dengan setia, seperti yang telah ditulis diatas, "Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu ". Pada peristiwa anak lembu emas, keluarga Lewi mengambil keputusan untuk berpihak kepada Tuhan, sementara keluarga-keluarga yang lainnya tidak demikian (Keluaran 32:26). Karena keputusannya ini maka Tuhan memberikan DiriNya sendiri kepada keluarga Lewi. Urim dan tumim-Nya, yang menjadi alat untuk mengetahui petunjuk Tuhan, diberikanNya kepada keluarga Lewi. Keluarga Lewi mendapat ministri untuk mengajarkan hukum dan peraturan-peraturan kepada Yakub. Keluarga Lewi juga mendapat pelayanan mezbah sebagai fungsi imam bagi anak-anak Yakub yang lainnya. Jadi, walaupun keluarga Lewi tidak mendapat wilayah sebagai milik pusaka mereka di tanah perjanjian, namun karena kesetiaan mereka kepada perjanjian Tuhan, mereka telah mendapat sesuatu yang jauh lebih mulia. Bagaimana dengan keluarga kita ? Mungkin didalam keluarga kita, suami atau isteri, telah menggunakan "alat kekerasan" seperti Simeon dan Lewi, untuk mencapai tujuan-tujuan kita sendiri. Keluarga kita telah jatuh kedalam suatu bentuk disiplin Tuhan. Tetapi, baiklah kita tetap memegang perjanjianNya, seperti yang diperbuat Lewi, sehingga walaupun kita tidak memperoleh "milik pusaka di tanah perjanjian" namun kita akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih mulia, yaitu suatu hak untuk melayani mezbah dan mendekat kepada Tuhan.
"Dan inilah tentang Yehuda. Katanya: 'Dengarlah, ya Tuhan, suara Yehuda dan bawalah dia kepada bangsanya…" [ Ulangan 33:7 ].
"Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu… Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda… " [ Kejadian 49:8,10 ].
Berkat Tuhan melalui Yakub dan Musa kepada Yehuda adalah berkat kerajaan. Ini adalah berkat yang luar biasa. Dengan berkat ini, Yehuda akan dipuji dan disegani oleh saudara-saudaranya, dan bahkan, sesuai dengan perkataan Yakub diatas, saudara-saudaranya akan sujud kepadanya. Musa juga berkata, agar, "…Tuhan… membawa Yehuda kepada bangsanya…", agar ia mendapat apa yang seharusnya didapat, yaitu penundukkan diri dari saudara-saudaranya.
Namun kita harus memahami bahwa berkat kerajaan ini bukan membuat orang menjadi seorang diktator, dan senang memerintah orang lain, tetapi orang menjadi takut dan tidak menyukainya. Berkat kerajaan ini membuat seseorang memiliki otoritas rohani dan wibawa untuk melayani orang lain seperti Yesus, yang menjadi hamba bagi orang lain, namun Ia adalah Raja diatas segala raja, dan karenanya dihargai, disegani dan dipuji oleh orang lain.
Berkat Tuhan bagi Yehuda melalui perkataan Yakub dan Musa ini telah digenapi dalam sejarah Israel. Yehuda telah memerintah Israel, dan melalui keluarga Yehuda-lah Mesias, yang adalah Raja diatas segala raja, dilahirkan.
Bagaimana penerapan berkat keluarga Yehuda ini kedalam keluarga kita saat ini ? Yang selalu harus kita ingat adalah pergeseran yang terjadi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama bersifat jasmani, dan materi, sedangkan Perjanjian Baru bersifat rohani. Berkat Perjanjian Lama adalah jasmani dan materi; itu sebabnya berkat kerajaan bagi Yehuda adalah benar-benar kerajaan dalam arti jasmani dan materi. Berkat Perjanjian Baru adalah rohani, karena itu bagi kita yang memperoleh berkat kerajaan adalah "duduk bersama dengan Tuhan Yesus" di sorga ( Efesus 2:6 ). Bagi kita yang mendapat berkat Yehuda, saat ini telah mulai memerintah bersama dengan Tuhan Yesus didalam sorga. Didalam roh, kita sungguh-sungguh menyadari bahwa kita sudah duduk bersama dengan Tuhan Yesus dalam posisi, " jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang ' ( Ef. 1:21 ).
Oleh kasih karunia Allah, kita telah memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Pertama, kita telah dilahirkan oleh Roh, dan karenanya telah melihat kerajaan sorga (Yohanes 3:3). Kedua, kita telah mengalami banyak sengsara karena disiplin dan pembentukkan Tuhan, dan karenanya kita telah memasuki kerajaan sorga (Kis. 14:22). Selanjutnya, Roh Kudus juga bersaksi didalam roh kita bahwa kita telah menjadi suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah kita ( Wahyu 1:6). Semua berkat ini terjadi didalam roh kita, namun dapat kita rasakan sungguh-sungguh saat ini. Dan pada kedatanganNya, Tuhan akan menyatakannya sehingga semua orang akan mengetahuinya.
Karena itu, jika dalam keluarga kita terjadi begitu banyak masalah, hendaklah kita belajar bersabar, sebab Tuhan sedang mempersiapkan berkat Yehuda atau berkat kerajaan bagi kita. Dan jika kita telah mulai mengalami berkat kerajaan ini maka, "… berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh… Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan Kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus " ( II Petrus 1:10-11 ).
"Tentang Yusuf ia berkata, 'Kiranya negerinya diberkati oleh TUHAN dengan yang terbaik dari langit… dengan yang terbaik dari yang dihasilkan matahari… dengan yang terbaik dari yang ditumbuhkan bulan… dengan yang terbaik dari bukit-bukit… dengan yang terbaik…" [ Ulangan 33:13-16 ].
"Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat " [ Matius 13:23 ].
Baik Musa maupun Yakub menegaskan bahwa Yusuf adalah orang yang teristimewa dari antara saudara-saudaranya (Kej. 49:26, Ul. 33:16). Salah satu keistimewaannya adalah mengenai berkat yang diterima oleh Yusuf dan keturunannya (keluarganya). Berkat yang diterima keluarga Yusuf adalah berkat yang terbaik, seperti tertulis pada ayat diatas.
Didalam Matius 13, kita melihat ada 3 macam buah dari orang-orang yang menerima firman Kerajaan Sorga. Semuanya berbuah, tetapi ada yang 100 kali lipat, 60 kali lipat dan 30 kali lipat. Demikian juga yang terjadi dengan anak-anak Yakub. Semua anak Yakub diberkati Tuhan, sesuai dengan perjanjian yang telah diikatNya dengan Abraham. Tetapi ada yang mendapat berkat "30 kali lipat", ada yang "60 kali lipat", dan ada juga yang "100 kali lipat". Kami menyebut berkat yang diterima keluarga Yusuf adalah berkat "100 kali lipat". Keluarga Yusuf telah mendapat yang terbaik dari Allah.
Memang semuanya ini adalah anugerah dan kasih karunia Tuhan semata-mata. Tuhan memberkati setiap orang atau keluarga sesuai dengan yang dikehendakiNya. Semua itu tergantung pada kemurahan Tuhan, dan bukan tergantung usaha orang ( Roma 9:16 ). Tetapi, dalam suatu pengertian tertentu, ada juga bagian yang harus dikerjakan oleh keluarga yang mendapat berkat "100 kali lipat" itu. Bagian yang harus dikerjakan itu telah dinyatakan dalam Filipi 2:12-13, demikian, "…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar… karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya ". Jadi, tetap ada hal-hal yang harus dikerjakan oleh suatu keluarga jika ia ingin mendapat berkat "100 kali lipat" itu, sekalipun semuanya itu adalah pekerjaan dan kerelaan Allah.
Mari kita melihat dan belajar dari perilaku Yusuf sendiri. Ketika Yusuf mengalami disiplin dan ujian Tuhan, ia melaluinya dengan tekun. Disalah mengerti oleh saudara-saudaranya, dibuang ke Mesir dan dipisahkan dari bapanya yang sangat mengasihinya, difitnah dan diperlakukan tidak adil oleh Potifar, mengalami sengsara di penjara, dan masih banyak kesusahan yang lainnya, namun ia tidak bersungut-sungut apalagi mempersalahkan Allah atas semuanya ini. Yusuf justru melihat rencana Allah dalam kehidupannya melalui semua ini, ketika ia berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar " (Kej. 50:20). Yusuf melihat rencana Allah dalam hidupnya, yaitu memelihara hidup suatu bangsa yang besar, bangsa pilihan Tuhan, Israel. Demikianlah Yusuf, seorang yang bergaul dengan Allah dan yang memahami rencanaNya.
Jadi, jika keluarga kita merindukan berkat "100 kali lipat", maka mari kita belajar dari perilaku Yusuf dalam menghadapi disiplin dan ujian. Mari kita melalui semua disiplin dan ujian yang telah Tuhan tetapkan bagi kita dengan tidak bersungut-sungut. Mari kita belajar melihat rencana Tuhan bagi keluarga kita. Mari kita belajar bergaul akrab dengan Tuhan dalam doa dan firman. Dan oleh kasih karuniaNya, keluarga kita akan mendapat berkat "100 kali lipat". Amin.
"…Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian : Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang kesana " [Ulangan 34:4].
"… Tuhan akan menghakimi umatNya " [ Ibrani 10:30 ].
"… sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar " [ Yesaya 26:9 ].
Allah mengizinkan Musa untuk melihat negeri yang dijanjikanNya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi, Allah tidak mengizinkan Musa untuk memasukinya, "oleh sebab kamu (Musa dan Harun) telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesy… " (Ul. 32:51). Inilah penghakiman Allah atas UmatNya.
Penghakiman Allah atas Musa dan juga Harun, telah membuat mereka tidak dapat memasuki tanah Perjanjian. Meskipun demikian, kita perlu belajar memahami sifat dasar penghakiman Allah. Didalam Yesaya 26:9 yang telah kita kutip diatas, jelas terlihat bahwa penghakiman Allah pada dasarnya bersifat memulihkan, membangun, dan menambah pengenalan akan yang benar. Allah menghakimi bumi agar penduduk dunia belajar apa yang benar. Penghakiman Allah tidak dimaksudkan untuk sekedar menghukum kesalahan tanpa ada unsur koreksi yang membangun didalamnya. Allah memang hakim yang adil, tetapi Ia juga adalah Allah yang penuh kasih, karenanya setiap tindakanNya selalu bersifat membangun, memulihkan, dan memberi pengenalan akan yang benar.
Musa memang tidak diizinkan memasuki tanah Perjanjian, tetapi Musa adalah seorang yang telah mendapat kasih karunia yang demikian berlimpah. Alkitab bersaksi bahwa, "Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah Tuhan…" (Ul. 34:10-11). Kita harus membedakan antara kasih karunia dan penghakiman. Penghakiman Allah yang dikenakan atas seseorang tidak berarti orang tersebut menerima sedikit kasih karunia.
Keluarga pertama di muka bumi ini juga telah menerima penghakiman Allah. Ketika keluarga pertama, Adam dan Hawa, jatuh kedalam dosa, maka Allah menjatuhkan keputusanNya atas Adam dan Hawa. Baik Adam dan Hawa, masing-masing telah menerima penghakiman Allah dalam kehidupannya. Bahkan penghakiman Allah tidak hanya bagi Adam dan Hawa saja, melainkan juga bagi seluruh keturunan mereka. Keturunan mereka semua mengalami maut, yaitu suatu jenis kehidupan yang dikuasai iblis, dan didalamnya tidak ada damai sejahtera Allah (Roma 5:12, Ibrani 2:14). Walaupun demikian, Adam adalah seorang yang mendapat kasih karunia Tuhan. Adam tetaplah anak Allah (Lukas 3:38). Dan Adam tetap menurunkan anak-anak ilahi, sebagai lawan dari Kain yang menurunkan anak-anak dunia (Kej. 4 dan 5). Jadi, sekalipun keluarga pertama menerima penghakiman Allah, tetapi mereka tetap memperoleh kasih karunia Tuhan.
Keluarga kita juga telah menerima penghakiman Allah. Diatas kayu salib, dosa-dosa keluarga kita telah dihakimi Allah oleh kematian Yesus Kristus. Didalam kehidupan kita sehari-hari sebagai anak Tuhan juga kita telah menerima penghakimanNya. Semuanya itu membuat kita bertumbuh dalam pengenalan akan yang benar. Karena itu, sebagaimana Musa maupun Adam menerima keputusan penghakiman Allah atas kehidupan mereka, demikian juga kita hendaknya menerima keputusan penghakiman Allah atas hidup kita.
"Sebab Aku akan membawa mereka ke tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka, yakni tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya; mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjianKu akan diingkari mereka " [ Ulangan 31:20 ].
Sejarah keluarga Yakub dituliskan agar menjadi contoh bagi keluarga kita, untuk memperingatkan kita supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat dalam hidup ini (I Korintus 10:6). Ayat kita diatas adalah perkataan dan pemberitahuan Tuhan sendiri kepada Musa bahwa keluarga Yakub akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya, segera setelah mereka memasuki tanah Perjanjian. Sementara mereka menikmati berkat Tuhan di tanah Perjanjian, mereka menista Tuhan dan mengingkari PerjanjianNya.
Sebenarnya mereka telah terbiasa melakukan hal yang jahat dimataNya, ketika mereka berada selama 40 tahun di padang gurun, sesuai dengan yang ada tertulis, "…Apakah kamu mempersembahkan kepadaKu korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel ? Tidak pernah, malahan kamu mengusung kemah molokh dan bintang dewa Refan, patung-patung yang kamu buat itu untuk disembah…" (Kis. 7:42-43). Sementara Tuhan memimpin keluarga Yakub selama 40 tahun di padang gurun, melakukan banyak mujizatNya, memberikan Hukum Taurat dan peraturan-peraturanNya; bahkan sementara para imam dan orang Lewi melakukan aktivitasnya di Kemah Suci, namun sebagian besar anggota keluarga Yakub beribadah kepada allah lain. Inilah gambaran dan fakta yang ada pada keluarga Yakub.
Memang tidak semua anggota keluarga Yakub yang menyimpang dari Allah yang benar. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan dan memelihara PerjanjianNya. Kalau kita melihat generasi pertama Israel (berumur 20 tahun keatas) yang berjumlah 600 ribuan, dan hanya keluarga Yosua serta Kaleb saja yang memasuki tanah Perjanjian, maka dapat dibayangkan betapa sedikit yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Namun, setelah mereka mengalami banyak disiplin dan kesusahan, bahkan sampai dibuang ke Babel, pada akhirnya Allah bertindak dan menyingkirkan segala kefasikan Yakub serta menyelamatkan seluruh Israel (Roma 11:26).
Berkat-berkat melimpah yang diterima keluarga Yakub di tanah Perjanjian ternyata tidak membuat mereka mengikut Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Hanya disiplin dan tindakan anugerah Tuhan saja yang membuat mereka dapat diselamatkan dan beribadah sungguh-sungguh kepada Tuhan.
Semuanya menjadi pelajaran bagi keluarga-keluarga kita saat ini, yang terikat oleh suatu Perjanjian dengan Allah Israel. Mungkin juga hanya sedikit keluarga-keluarga Kristen yang sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Berkat-berkat yang telah diterima, barangkali juga tidak dapat mengubah hati kebanyakan keluarga Kristen sehingga mengikut Tuhan sepenuhnya. Tetapi dengan disiplin dan tindakan anugerah Tuhan, maka keluarga kita dapat beribadah sungguh-sungguh kepada Tuhan. Semoga disiplin dan anugerahNya berlaku atas keluarga kita semua. Amin.
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjianKu yang Kuikat dengan mereka " [Ulangan 31:16].
"Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan…" [ Ibrani 3:5 ].
Ketika ajal Musa mendekat, Allah berfirman bahwa keluarga Yakub akan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri kemana mereka akan masuk. Bukan saja setelah kematian Musa, bahkan ketika Musa masih melayanipun keluarga Yakub cenderung menyimpang dari jalan Tuhan, seperti dikatakan Musa sendiri, "…sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati " (Ul. 31:27). Musa telah melayani keluarga Yakub selama 40 tahun, dan generasi pertama telah gagal di padang gurun, demikian juga dengan generasi yang dikatakan Tuhan akan bangkit dan mengikuti allah asing di negeri kanaan. Apakah semuanya ini membuktikan bahwa Musa telah gagal sebagai pelayan, dan juga sebagai bapa bagi keluarga Yakub ?
Bagaimana juga dengan kasus Ayub, dimana ia kehilangan anak-anaknya karena malapetaka, walaupun ia telah berdoa dan bersyafaat dihadapan Tuhan ? Demikian juga dengan kasus Kain dalam keluarga Adam, dimana Kain sebagai anak sulung membunuh adiknya. Apakah semua kejadian ini menjadi tanggung jawab bapa sebagai kepala keluarga ?
Sejauh ini kita telah menegaskan berulang-ulang tentang tanggung jawab bapa sebagai kepala keluarga. Tidak dapat disangkal lagi bahwa secara umum, bapa memang bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarganya. Tetapi ternyata, ada beberapa kasus dimana seorang bapa tidak dapat dinyatakan gagal atau bersalah atas apa yang telah menimpa keluarganya.
Tentang Musa, Alkitab bersaksi bahwa ia setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan. Mengenai Ayub, Alkitab menegaskan bahwa, "…dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa…" (Ayub 1:22). Demikian juga dengan Adam, yang tetap disebut sebagai anak Allah (Lukas 3:38). Jadi, ada kasus-kasus tertentu dimana seorang bapa tetap dinyatakan berhasil melayani keluarganya, walaupun keluarganya ditimpa malapetaka, atau kegagalan, atau peristiwa-peristiwa buruk lainnya.
Tetapi kita harus tetap menempatkan hal ini sebagai kasus khusus. Secara umum, tetaplah bapa bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarganya. Saat ini ada beberapa pengajaran yang membuat seorang bapa harus memberi kebebasan kepada anak-anaknya sedemikian sehingga ia tidak bertanggung jawab lagi atas apa yang akan menimpa anak-anaknya. Ada juga pengajaran yang menyatakan bahwa seorang bapa tidak dapat dimintai tanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang menimpa anak-anaknya.
Tetapi jika kita memahami pengertian kekepalaan (headship, artinya posisi dan tanggung jawab seorang kepala) menurut Alkitab, sebagai contoh kekepalaan Adam dan kekepalaan Kristus Yesus, maka kita akan mudah menerima bahwa secara umum bapa harus bertanggung jawab atas apapun yang menimpa keluarganya. Semoga bapa-bapa dalam keluarga Kristen memahami posisinya dihadapan Tuhan.
"Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagiKu terhadap orang Israel ' [ Ulangan 31:19 ].
"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi " [ Kisah Para Rasul 1:8 ].
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa keluarga Yakub segera akan menyimpang dari jalan Tuhan tidak lama setelah mereka ada di tanah perjanjian, maka Tuhan memerintahkan Musa untuk menyampaikan suatu nyanyian yang akan menjadi saksi bagi Allah terhadap keluarga Yakub. Sebenarnya, keluarga Yakub-lah yang harus menjadi saksi bagi Allah terhadap bangsa-bangsa lainnya. Seharusnya keluarga Yakub menyaksikan kemuliaan Allah dan segala perbuatanNya yang ajaib terhadap bangsa-bangsa lainnya, agar Nama Tuhan dipermuliakan di seluruh muka bumi ini. Tetapi, karena kegagalan keluarga Yakub sebagai saksiNya, maka Allah mengajarkan suatu nyanyian kepada Musa untuk menjadi saksi bagiNya ganti keluarga Yakub.
Ini suatu hal yang sangat menyedihkan. Tuhan memerlukan saksi untuk memberitakan segala perbuatanNya yang besar atas seluruh bumi, agar NamaNya dipermuliakan di seluruh bumi. Dan tentunya, Tuhan berharap bahwa orang-orang atau keluarga yang dipilihNya akan menjadi saksi bagiNya. Tetapi sekarang, suatu nyanyian akan menjadi saksi bagi Allah terhadap keluarga Yakub.
Apakah isi nyanyian yang diajarkan Musa ini ? Pertama, nyanyian ini menyatakan kemulian Allah, baik karena pekerjaanNya yang sempurna, maupun karena keberadaanNya yang setia, adil dan benar ( Ul. 32:4). Kedua, nyanyian ini menyatakan pilihanNya atas keluarga Yakub ( Ul. 32:9 ). Ketiga, nyanyian ini menyatakan perbuatan Tuhan atas keluarga Yakub dalam hal pemeliharaanNya, didikanNya, seperti rajawali yang mengajari anaknya terbang, dan dalam hal berkat-berkat yang dilimpahkanNya (32:10-14). Keempat, nyanyian ini menyatakan perbuatan keluarga Yakub yang meninggalkanNya (Ul. 32:15-18). Kelima, nyanyian ini menyatakan tindakan Tuhan yang mendisiplin Yakub dengan kesengsaraan, dan juga tindakan Tuhan untuk memulihkan Yakub (32:19-43). Demikianlah kira-kira isi nyanyian yang diajarkan Musa kepada Israel sebagai saksi bagiNya.
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kegagalan keluarga Yakub untuk menjadi saksiNya ini ? Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari kasus keluarga Yakub adalah bahwa tidaklah mudah untuk menjadi saksi bagi Tuhan. Keluarga Yakub telah cukup banyak menerima didikan Tuhan di padang gurun, menerima banyak mujizatNya, menerima banyak berkat-berkatNya, menerima FirmanNya, namun kecenderungannya untuk menyimpang dari jalan Tuhan masih tetap melekat kuat didalam dirinya. Itu sebabnya, sesuai dengan Kisah para rasul yang telah kita kutip diatas, begitu pentingnya menerima kuasa Roh Kudus agar kita dapat menjadi saksiNya dimanapun kita berada.
Pelajaran kedua bagi kita adalah bahwa kita telah dipanggil dan dipilihNya untuk menjadi saksi, sehingga jika orang melihat keluarga kita, maka mereka akan melihat kemuliaan Allah, melihat segala perbuatanNya yang besar, melihat berkat-berkatNya, dan bahkan melihat Allah sendiri bahwa Allah ada didalam keluarga kita. Semoga kita tidak gagal menjadi saksiNya. Amin.