Imamat ( 1 )
Imamat ( 2 )
Imamat ( 3 )
Imamat ( 4 )
Imamat ( 5 )
Imamat ( 6 )
Imamat ( 7 )
Imamat ( 8 )
Imamat ( 9 )
Imamat ( 10 )
Imamat ( 11 )
Imamat ( 12 )
Imamat ( 13 )
Imamat ( 14 )
Imamat ( 15 )
Imamat ( 16 )
Imamat ( 17 )
Imamat ( 18 )
Imamat ( 19 )
"Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku " [ Imamat 20:26 ].
“Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku “ [ Imamat 20:26 ].
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati “ [ Roma 12:1 ].
Kitab Imamat menguraikan hukum tentang korban-korban (pasal 1-7) dan hukum tentang imam-imam (pasal 8-27). Hukum atau peraturan-peraturan mengenai korban dan imam-imam ini diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel di Gunung Sinai ketika Ia mengikat perjanjian dengan keluarga Yakub dengan perantaraan Musa. Peraturan-peraturan ini diberikan karena Allah telah mengangkat keluarga Yakub menjadi UmatNya, dan memisahkannya dari bangsa-bangsa lain agar keluarga Yakub menjadi milikNya. Peraturan-peraturan ini juga diberikan agar keluarga Yakub menjadi kudus, sebab Allah yang memilih mereka adalah Kudus.
Allah menghendaki agar peraturan-peraturanNya dijalankan oleh keluarga Yakub sebagai ungkapan kasih dan syukur kepada Allah yang telah memilih dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Tetapi, pada kenyataannya, keluarga Yakub melakukan peraturan-peraturanNya hanya sebagai suatu upacara atau ritual keagamaan saja, tanpa didasari rasa kasih dan ibadah yang murni kepadaNya. Karena hal ini maka Allah membangkitkan nabi-nabiNya untuk menegur bangsa Israel, agar menyadari bahwa peraturan-peraturanNya haruslah dilakukan dalam konteks penyembahan yang sejati kepada Allah.
Itu sebabnya Allah membangkitkan Yesaya dan nabi-nabi lainnya serta berseru, “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKu…” [ Yesaya 1:13-17, bandingkan Yeremia 7:20-23, Mikha 6:6-8 ]. Demikian juga Yesus setuju dengan ahli Taurat yang mengatakan bahwa mengasihi Allah dan sesama adalah lebih penting daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan (Markus 12:33-34). Ini bukan berarti Yesus membatalkan hukum mengenai korban-korban dan hukum mengenai imam-imam, melainkan Ia menegaskan agar keluarga Yakub melakukan peraturan-peraturanNya sebagai ungkapan iman dan kasih kepada Allah.
Allah berkenan jika semua peraturanNya dilakukan dengan benar, sebab semua peraturan yang diberikanNya kepada keluarga Yakub di Gunung Sinai bukanlah tanpa makna sama sekali. Secara umum, semua peraturan di gunung Sinai merupakan perlambang, dimana penggenapan dan realitanya ada didalam Kristus Yesus. Segala korban menurut hukum Musa, digenapi oleh Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia oleh pengorbananNya di kayu salib.
Jadi, Allah menghendaki keluarga Yakub menaati peraturan-peraturanNya dalam suatu ibadah yang benar. Demikian juga Ia menghendaki keluarga-keluarga Kristen menjalankan ibadahnya dalam roh dan kebenaran. Jika suatu keluarga melakukan ibadah hanya sebagai suatu upacara atau sebagai sesuatu yang sudah menjadi rutinitas saja, maka Ia tidak berkenan. Jika kebaktian, doa, membaca Alkitab, atau apa yang disebut pelayanan, dilakukan diluar kuasa dan pimpinan RohNya, maka inilah yang disebut ritual dan rutinitas saja. Semoga keluarga kita beribadah dalam roh dan kebenaran. Semoga keluarga kita mempersembahkan tubuh sedemikian sehingga merupakan persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Inilah ibadah yang sejati.
"Panggillah Harun dan anak-anaknya bersama-sama dengan dia, dan ambillah pakaian-pakaian, minyak urapan, dan lembu jantan korban penghapus dosa...” [ Imamat 8:2 ].
"Masuklah Musa dan Harun kedalam Kemah Pertemuan. Setelah keluar, mereka memberkati bangsa itu, lalu tampaklah kemuliaan Tuhan kepada segenap bangsa itu. Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan korban bakaran dan segala lemak diatas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah ” [ Imamat 9:23-24 ].
Seperti diketahui bahwa Kitab Imamat menguraikan hukum tentang korban-korban (pasal 1-7) dan hukum tentang imam-imam (pasal 8-27), maka secara khusus pasal 8 dan 9 menguraikan pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk memegang jabatan sebagai imam Tuhan. Pentahbisan Harun dan anak-anaknya merupakan suatu hal yang sangat indah dimana suatu keluarga, yang dipimpin seorang bapa, terpanggil untuk melayaniNya. Pasal-pasal ini dapat disebut sebagai pentahbisan suatu pelayanan keluarga, bukan pelayanan satu individu saja.
Pelayanan Harun sekeluarga, dibantu oleh pelayanan Musa tentunya, membuat kemuliaan Tuhan tampak kepada segenap bangsa Israel, dan bahkan terjadi mujizat dimana api dari hadapan Tuhan menghanguskan seluruh korban diatas mezbah. Hal ini menyebabkan seluruh bangsa Israel bersorak-sorai dan sujud menyembah. Pelayanan keluarga yang seperti inilah yang kita harapkan terjadi saat ini; suatu pelayanan keluarga yang membuat jemaat bersorak-sorai serta sujud menyembah Tuhan.
Bagaimana pelayanan keluarga Harun ini dapat memperoleh hasil sedemikian itu ? Kita akan melihat hal ini dari pasal 8 dan 9 kitab Imamat. Pertama, Otoritas Firman Tuhan ditegakkan. Pasal 8 ayat 5 menegaskan, "...Inilah firman yang diperintahkan Tuhan untuk dilakukan ". Semua hal yang dilakukan Harun dan anak-anaknya merupakan perintah Tuhan melalui Musa, bagi mereka. Ketika firman Tuhan ditaati oleh suatu keluarga, maka kemuliaan Tuhan akan termanifestasi didalam dan melalui keluarga tersebut. Kedua, kuasa darah Anak Domba. Pada zaman Harun, yang dikorbankan adalah anak domba, lembu atau kambing, sebagai perlambang. Tetapi, saat ini, Anak Domba Paskah kita adalah Tuhan Yesus Kristus yang telah menghapus dosa dunia oleh korbanNya di kayu salib. Ibrani 9:22 menegaskan, "Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut Hukum Taurat dengan darah...”. Ketika ditahbiskan, maka darah korban itu dibubuhkan pada cuping telinga kanan Harun, pada ibu jari tangan kanan, dan pada ibu jari kaki kanan (8:23). Jadi, kuasa darah itu akan membuat orang mampu mendengar suara Tuhan, bekerja melayani Tuhan, dan berjalan dijalan Tuhan. Ketika suatu keluarga disucikan oleh darah Kristus, maka kemuliaan Allah akan mulai terlihat. Ketiga, pengurapan. Imamat 8:30 menyatakan, "...Musa mengambil sedikit dari minyak urapan...dipercikkannya kepada Harun, kepakaiannya...”. Urapan dan penyertaan Roh Kudus dalam suatu keluarga yang melayani Tuhan, akan membuat jemaat bersorak-sorai dan sujud menyembah Tuhan. Jadi, jika suatu keluarga ada didalam otoritas firman Tuhan, kuasa darah Yesus, dan pengurapan Roh KudusNya, maka kita akan melihat kemuliaan Tuhan termanifestasi dalam setiap langkah kehidupan keluarga tersebut.
Telah kita lihat, bagaimana seorang bapa melayani Tuhan bersama-sama dengan anak-anaknya dibawah otoritas firman Tuhan, kuasa darah Anak Domba, dan pengurapan Roh KudusNya. Semoga keluarga-keluarga Kristen saat ini, juga melayani Tuhan dibawah kondisi sedemikian, agar kemuliaan Tuhan terpancar dan jemaat diberkati.
"Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api kedalamnya serta menaruh ukupan diatas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan kehadapan Tuhan api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN " [ Imamat 10:1-2 ].
Seperti telah diketahui bahwa kitab Imamat terdiri dari dua bagian, yaitu tentang hukum korban-korban dan hukum tentang imam-imam. Ayat kita diatas termasuk dalam bagian kedua yaitu hukum tentang imam-imam. Hal ini perlu ditegaskan agar dalam memahami bagian ini, kita memperhatikan konteksnya. Jadi, yang dipermasalahkan pada ayat kita diatas bukanlah tentang korbannya, melainkan tentang imam yang mempersembahkan korban.
Nadab dan Abihu mati dihadapan Tuhan, karena mereka mempersembahkan api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. Jika kita memperhatikan konteks, maka Nadab dan Abihu mati, bukan karena ada sesuatu yang salah dengan korban yang mereka persembahkan, melainkan ada sesuatu yang salah dengan diri mereka sendiri, karena ayat kita diatas berbicara tentang peraturan-peraturan bagi imam-imam. Oleh karenanya, makna api yang asing adalah suatu persembahan yang salah, yang disebabkan adanya kesalahan pada diri imam yang mempersembahkan.
Kalau demikian, kesalahan apakah yang ada pada diri Nadab dan Abihu, sehingga mereka mati dihadapan Tuhan ? Memang pasal ini tidak begitu jelas menguraikan kesalahan yang ada pada Nadab dan Abihu. Tetapi kita dapat memperoleh sedikit pengertian jika kita memperhatikan konteksnya. Pada pasal 10, setelah menguraikan kematian Nadab dan Abihu, maka ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang larangan meminum minuman keras bagi imam yang sedang menyelenggarakan Ibadah korban. Bisa jadi, ketika Nadab dan Abihu menjalankan Ibadah korban, mereka sebelumnya telah meminum anggur atau minuman keras lainnya. Walaupun hal ini belum pasti dalam kasus Nadab dan Abihu, namun berdasarkan pasal 10, kita dapat melihat bahwa Allah sangat memperhatikan kondisi moral dari imam-imam yang mempersembahkan korban.
Penjelasan lain yang dapat dikemukakan disini berkaitan dengan kesalahan Nadab dan Abihu adalah masalah otoritas dalam keluarga. Pada pasal sebelumnya, yaitu pasal 8 dan 9, diuraikan mengenai pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam yang melayani Tuhan. Nadab dan Abihu, sebagai anak-anak Harun, haruslah melayani dibawah kepemimpinan Harun sebagai bapa. Tetapi, dalam pasal 10, kita lihat bahwa Nadab dan Abihu mempersembahkan korban tanpa keterlibatan Harun sebagai pemimpin. Barangkali, hal inilah yang menyebabkan Nadab dan Abihu mati dihadapan Tuhan. Mereka telah melayani Tuhan dalam kondisi tidak berada dibawah kepemimpinan Harun, sebagai bapa dan pemimpin yang ditetapkan Allah. Kondisi seperti ini kita sebut dengan istilah "melayani dalam kondisi memberontak terhadap otoritas yang ditetapkan Allah”. Tentu Allah tidak berkenan terhadap pelayanan yang sedemikian. Namun, apapun juga kesalahan Nadab dan Abihu, yang jelas Tuhan tidak berkenan menerima korban persembahan jika orang yang mempersembahkannya berada dalam kondisi yang salah dihadapanNya.
Jika kita kembali melihat bagaimana Harun dan anak-anaknya, yang telah ditahbiskan Allah menjadi imam-imam yang akan mempersembahkan korban, maka betapa menyedihkan kematian Nadab dan Abihu ini. Pelayanan keluarga Harun yang telah memberkati Umat Tuhan ( 9:23-24 ), harus mengalami masalah serius dengan kematian Nadab dan Abihu. Semoga pelayanan keluarga-keluarga Kristen tetap memberkati Umat terus menerus. Amin.
"Katakanlah kepada orang Israel, begini : Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada diatas bumi : setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan " [ Imamat 11:2-3 ].
Kitab Imamat dapat disebut sebagai kitab pedoman bagi imam-imam. Didalamnya tertulis peraturan-peraturan dan hukum-hukum, yang mana menguraikan tentang apa yang kudus dan apa yang najis, apa yang tahir dan apa yang tidak tahir. Allah menghendaki Umat Israel mentaatinya agar mereka menjadi kudus, sebagaimana Dia juga kudus. Semua peraturan-peraturan ini berlaku bagi keluarga Yakub sebagai bagian dari perjanjian yang diikatNya di Gunung Sinai antara DiriNya dan bangsa Israel.
Pada awalnya, Allah mempunyai rencana agar seluruh keturunan Yakub menjadi kerajaan Imam, dalam arti seluruh bangsa menjadi imam-imam bagi Allah ( Kel. 19:6 ). Tetapi Umat Israel telah gagal secara menyedihkan pada peristiwa anak lembu emas. Sejak saat itu, Tuhan memilih suku Lewi untuk menjadi imam-imam bagi DiriNya. Rencananya, seluruh bangsa menjadi imam-imam, namun sekarang bangsa Israel sendiri memerlukan imam-imam. Selanjutnya, dari antara suku Lewi, Tuhan memilih keluarga Harun untuk menjadi imam-imam. Karenanya, secara khusus, peraturan-peraturan dalam kitab Imamat berlaku bagi Imam Harun dan keturunannya.
Ayat diatas menegaskan bahwa diantara binatang berkaki empat, hanya yang memamah biak dan yang berkuku belah saja yang dapat dimakan. Artinya, agar imam-imam tetap kudus bagi Allahnya, maka ia hanya boleh memakan binatang berkaki empat yang memamah biak dan berkuku belah. Apakah maknanya ayat ini bagi keluarga-keluarga Kristen yang juga adalah imam-imam bagi Allahnya ( I Petrus 2:9 ). Memamah biak mempunyai arti "mengunyah didalam” atau "inwardly digesting”. Ini berarti seorang imam haruslah "mengunyah” firman Tuhan didalam hatinya agar ia menjadi kudus. Membaca Alkitab saja tidaklah cukup bagi seorang imam. Seseorang haruslah "mencerna dan mengunyah” firman Tuhan sedemikian sehingga menjadi "daging” dalam dirinya, dalam arti menjadi bagian dirinya sendiri. Demikianlah peraturan bagi seorang Imam. Selanjutnya, apakah makna berkuku belah. Kuku belah, mengungkapkan ciri ( karakter ) dari langkah luaran seseorang. Artinya, seorang imam tidak hanya "mengunyah” firman Tuhan saja, tetapi juga karakternya dan perbuatannya harus sesuai dengan firman yang dikunyahnya. Salah satu kegagalan ahli-ahli Taurat pada zaman Yesus adalah karakter dan perbuatan mereka tidak sesuai dengan firman yang mereka "kunyah” dan ajarkan. Kegagalan ini juga dapat terjadi pada keluarga-keluarga Kristen sebagai imam-imam bagi Kristus.
Imamat 11:4-8 dengan tegas menyatakan 2 persyaratan, yaitu memamah biak dan berkuku belah, sebagai binatang yang boleh dimakan. Jika hanya satu persyaratan saja yang terpenuhi, maka binatang itu haram, dan tidak boleh dimakan. Artinya, seorang imam barulah dinyatakan kudus, jika perbuatannya sesuai dengan firman yang dikunyahnya dan diajarkannya.
Dalam pengertian tertentu, seorang bapa adalah imam ditengah-tengah keluarganya. Bisa saja seorang bapa menjadi pembicara dan pengkhotbah yang dikenal dimana-mana, tetapi penilaian yang paling tepat tentang apakah ia seorang imam yang kudus atau tidak, akan ditentukan oleh isteri dan anak-anaknya. Semoga kita semua menjadi imam-imam yang kudus, sebagaimana Dia juga kudus adanya.
"Katakanlah kepada orang Israel : Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis. Dan pada hari yang kedelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu " [ Imamat 12:2-3 ].
"...haruslah dibawanya seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa...” [Imamat 12:6 ].
Kitab Imamat mengajarkan dengan jelas perihal tahir dan najis, atau perihal yang kudus dan yang tidak. Semua ini disebabkan Allah, yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, adalah Kudus. Itu sebabnya, sebagai Umat PilihanNya, Israel haruslah kudus, sebagaimana Dia juga Kudus.
Pada ayat kita diatas, jelas dinyatakan bahwa perempuan yang melahirkan anak menjadi najis, dan dibutuhkan anak domba dan burung merpati / tekukur untuk mentahirkan perempuan yang melahirkan anak. Sesungguhnya, bukan saja perempuan yang melahirkan menjadi najis, juga anak yang dilahirkannya adalah juga tidak tahir. Daud berkata dalam mazmurnya, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku ". Jadi, baik perempuan yang melahirkan, maupun anaknya, semuanya memerlukan anak domba, yang mana merupakan lambang Kristus yang disalibkan, agar mereka menjadi tahir.
Bagaimana kita menerapkan peraturan dalam kitab Imamat ini kedalam kehidupan keluarga kita ? Pelajaran disini sangat jelas, yaitu setiap anak yang dilahirkan dalam keluarga Kristen, perlu mengalami salib dan darah Kristus dalam kehidupannya, agar ia menjadi tahir, demikian juga tentu kedua orang tuanya, khususnya ibunya, seperti yang tertulis dalam kitab Imamat ini.
Seorang anak haruslah dibesarkan dan dididik dengan fokus mengenal salib dan darah Kristus, supaya anak ini menjadi tahir dan berguna bagi Tuhan dan sesama. Jika anak ini dididik berdasarkan sistem pendidikan yang umumnya berlaku saat ini, maka mungkin anak ini berguna secara manusia, namun dihadapan Tuhan tetaplah ia seorang yang belum ditahirkan.
Kita perlu menyadari apa yang sedang terjadi dan bergulir pada zaman ini, khususnya yang menyangkut dunia pendidikan. Yang sedang terjadi dizaman ini adalah derasnya arus modernisasi, yaitu suatu proses menuju sistem masyarakat yang modern. Modernisasi bukan hanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat hidup menjadi lebih mudah. Tetapi dibalik kemajuan-kemajuan itu ada paham / pandangan atau kepercayaan-kepercayaan, seperti humanisme ( berpusat pada perkara-perkara manusia dan bukan Tuhan ), sekularisme ( ajaran bahwa moralitas dan pendidikan seharusnya tidak didasarkan atas nilai-nilai rohani ), materialisme (kecenderungan untuk menilai perkara-perkara seperti kesehatan, harta benda, dan kesenangan tubuh sebagai yang terutama dan terpenting serta menilai rendah hal-hal rohani).
Jika kita sebagai orang tua, tidak peka terhadap hal-hal ini dan menyerahkan anak-anak kita untuk dididik menurut sistem pendidikan modern dengan ciri dan kecenderungan seperti yang telah disebutkan diatas, maka mungkin anak kita berguna didalam dunia ini, tetapi tidak berguna didalam Tuhan karena belum ditahirkan.
Itu sebabnya, sangat penting bagi bapa dan ibu, dimana dalam kitab Imamat ini khususnya ibu yang melahirkan anak tersebut kedalam dunia, agar mengenal sungguh-sungguh salib dan darah Kristus. Dengan demikian anak-anak dididik dan dibesarkan dengan fokus pada salib dan darah Kristus. Semoga anak-anak kita menjadi tahir dan berguna bagi Tuhan, Amin.
"Apabila pada kulit badan seseorang ada bengkak atau bintil-bintil atau panau, yang mungkin menjadi penyakit kusta pada kulitnya, ia harus dibawa kepada imam Harun...Imam haruslah memeriksa penyakit pada kulit itu...” [ Imamat 13:1-2 ].
"Apabila pada pakaian ada tanda kusta...hal itu harus diperiksakan kepada imam...” [Imamat 13:47,49 ].
"Apabila kamu masuk ketanah Kanaan yang akan Kuberikan kepadamu menjadi milikmu dan Aku mendatangkan tanda kusta di sebuah rumah di negeri milikmu itu, maka pemilik rumah itu harus datang memberitahukannya kepada imam...” [ Imamat 14:34-35 ].
Didalam bagian ini kita akan melihat bagaimana peranan Imam dalam menentukan najis atau tidaknya seseorang, pakaian, maupun rumah. Imam haruslah memiliki ketajaman dan ketelitian dalam menilai apakah sesuatu itu najis atau tidak. Itu sebabnya, jika pada pemeriksaan pertama, Imam belum dapat mengambil keputusan, maka ia akan menunggu 7 hari lagi agar menjadi jelas. Dan, jika pada ke- 7 hari yang pertama, Imam belum juga dapat memutuskan, maka akan ditunda lagi selama 7 hari yang kedua. Ini membuktikan bahwa seorang Imam tidak boleh tergesa-gesa mengambil keputusan apakah sesuatu itu najis atau tidak. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk memutuskannya.
Ayat-ayat kita diatas menegaskan tiga hal yang harus dinilai oleh imam apakah sesuatu itu najis atau tidak, yaitu dalam hal kulit badan seseorang, pakaian, dan rumah. Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita, ada baiknya kita mengingat bahwa sistem keimaman yang berlaku pada bangsa Israel atau keluarga Yakub, disebabkan kegagalan mereka pada peristiwa anak lembu emas, sehingga hanya suku Lewi yang menjadi imam-imam. Rencana Tuhan semula adalah mereka semua menjadi kerajaan Imam, dalam arti semua mereka menjadi imam-imam bagi Allah Israel ( Keluaran 19 ). Demikian juga rencana Tuhan bagi kita gerejaNya. Semua kita adalah imam-imam. Jadi, kita sebagai imam-imam diharapkan juga dapat menilai sesuatu itu apakah najis atau tidak. Bagi keluarga Kristen, memang semua anggotanya juga adalah imam-imam, namun secara khusus, fungsi imam ditengah keluarga dijalankan oleh seorang bapa.
Sekarang, bagaimana kita memahami dan menerapkan ayat-ayat kita diatas kedalam keluarga kita masing-masing. Berbicara tentang apakah kulit badan seseorang, pakaian, dan rumah ? Kulit badan seseorang adalah sesuatu yang langsung dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Kulit badan seseorang merupakan simbol dari perilaku atau karakter seseorang. Jika kulit badan seseorang terkena kusta, itu berarti perilaku dan karakter seseorang bercacat-cela. Dan, jika ini terjadi, maka secara otomatis, ia dikucilkan, dalam arti tidak memiliki fellowship atau persekutuan dengan sesama orang percaya.
Pakaian berbicara tentang ministri, jabatan ataupun hubungan seseorang dengan orang lain dalam konteks jabatannya atau pelayanannya. Jika pakaian terkena kusta, maka itu berarti pelayanan atau jabatan seseorang patut diragukan. Hubungan orang itu dengan orang lain juga patut dipertanyakan. Dalam konteks keluarga, hubungan suami-isteri dan anak-anak, berada dalam kondisi bermasalah. Bermasalah dalam arti keluarga tersebut sudah tidak tahir lagi.
Jika rumah yang terkena kusta, maka ini berarti keluarga atau seisi rumah tersebut berada dalam kondisi tidak tahir, dan secara khusus "pemilik rumah”, yaitu kepala rumah tangga haruslah memikul tanggung jawab.
Tetapi kembali harus kita ingat bahwa keputusan apakah sesuatu itu terkena kusta atau tidak, ditentukan oleh seorang imam. Jika terkena kusta, Tuhan telah memberikan jalan pentahirannya, yaitu melalui korban penghapus dosa dan korban bakaran, yang melambangkan korban Kritus di kayu salib. Didalam suatu keluarga, bapa secara khusus menjalankan fungsi seorang imam. Dibutuhkan kedewasaan seorang bapa untuk dapat menilai apakah karakter, atau pelayanan, atau keluarganya, telah terkena kusta atau belum. Jika seorang bapa salah menilai, bagaimana ia dapat membereskan masalahnya ? Tuhan telah memberikan korban Kristus sebagai jawabannya. Tergantung bagaimana penilaian seorang bapa sebagai imam ditengah-tengah keluarganya.
"...Apabila aurat seorang laki-laki mengeluarkan lelehan, maka najislah ia karena lelehannya itu " [ Imamat 15:2 ].
"Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam " [ Imamat 15:19 ].
"...supaya mereka jangan mati di dalam kenajisannya, bila mereka menajiskan Kemah SuciKu yang ada ditengah-tengah mereka itu " [ Imamat 15:31 ].
Jika kita perhatikan ayat-ayat diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang sangat alamiahpun ( natural ), dinyatakan najis menurut Hukum Taurat Musa.. Perihal seorang laki-laki atau perempuan yang mengeluarkan lelehan adalah sesuatu yang sangat biasa. Tetapi, karena Hukum Taurat Musa menyatakan hal ini sebagai sesuatu yang najis, maka orang yang mengalaminya haruslah mempersembahkan dua ekor burung untuk pentahirannya ( ayat 14 ). Karena hanya dibutuhkan dua ekor burung untuk pentahirannya dan bukan anak domba seperti pada kasus penyakit kusta, maka nampaknya kenajisan seperti ini tidak terlalu serius seperti pada penyakit kusta.
Sekalipun tidak begitu serius seperti kenajisan karena penyakit kusta, tetapi jika kenajisan ini tidak diselesaikan, maka seseorang dapat mati karenanya. Semua ini disebabkan Allah Israel berdiam ditengah-tengah keluarga Yakub melalui Kemah SuciNya.
Bagaimana kita menerapkan perihal ini kedalam kehidupan keluarga kita ? Jika tingkat kehadiran Allah sangat kuat dalam suatu keluarga Kristen, maka banyak hal-hal alamiah yang mungkin dapat dilakukan oleh keluarga-keluarga lainnya, tetapi tidak dapat dilakukan oleh keluarga ini. Kehadiran Tuhan memang merupakan berkat tersendiri bagi kita yang mengalaminya, namun karena kehadiranNya juga kita perlu belajar untuk tidak melakukan atau menjalankan hal-hal yang kelihatan normal dilakukan oleh keluarga lain.
Masing-masing keluarga perlu menentukan, sesuai pimpinan Tuhan, hal-hal apa saja yang kelihatan normal dilakukan oleh keluarga lain, namun yang tidak boleh dilakukannya. Masing-masing keluarga perlu menguji dan memeriksa diri dihadapan Tuhan mengenai mata pencariannya, pergaulannya dengan orang lain, penggunaan uang dan waktunya, rekreasinya, jenis musik dan acara tv yang dinikmatinya, dan seterusnya. Najis atau tidaknya sesuatu bagi keluarga kita tidak ditentukan oleh apakah sesuatu itu normal dilakukan oleh keluarga-keluarga pada umumnya atau tidak, tetapi ditentukan sesuai pimpinan Roh.
Pada akhirnya, segala sesuatu tergantung pimpinan Roh Kudus. Memang Kitab Suci memberi pedoman dan pengarahan pada kita, namun bagi keluarga yang mengalami kehadiran Allah dengan jelas, maka pimpinan Roh Kudus akan menentukan apakah sesuatu itu layak dilakukan atau tidak. Ini tidak berarti kita melanggar prinsip-prinsip yang dengan tegas digariskan oleh Alkitab, sebagai tulisan yang diilhamkan Allah, tetapi kita menghormati Roh kudus yang hadir ditengah-tengah keluarga kita.
Semoga Roh Kudus yang menentukan apa yang najis dan yang tahir bagi keluarga kita. Semoga Roh Kudus yang menentukan apa yang layak dan yang tidak layak dijalankan keluarga kita. Semoga kehadiranNya yang menentukan segalanya.
"Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka " [ Imamat 16:16 ].
"Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan DiriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami [ II Korintus 5:19 ].
Imamat pasal 16 menguraikan sesuatu yang sangat penting bagi kita yang ingin memahami pokok tentang pendamaian. Sekalipun telah ada segala jenis korban, baik bagi Umat Israel maupun bagi para imam, namun sekali setahun Imam Besar Harun tetap harus menjalankan pelayanan pendamaian bagi dirinya, keluarganya, maupun Umat Israel, sesuai prosedur sebagaimana diuraikan dalam pasal 16 ini. Pelayanan pendamaian sebagaimana diatur dalam Imamat 16 ini, harus dilakukan pada tanggal 10 bulan ketujuh, dan disertai dengan ritual merendahkan diri dengan berpuasa bagi Umat Israel. Dan ini merupakan sabat, yaitu hari perhentian penuh bagi bangsa Israel. Dengan menjalankan ritual ini, maka bangsa Israel akan ditahirkan dari segala dosanya, dan tetap ada dalam kondisi yang benar dihadapan Allah.
Dalam ritual ini, Imam Besar Harun memasuki Ruang Maha Kudus dengan membawa darah lembu jantan, untuk dirinya serta keluarganya, dan darah kambing jantan untuk mendamaikan Umat Israel dihadapan Tuhan. Kita tidak akan menguraikan secara rinci peraturan atau prosedur yang harus dijalankan Harun sebagai Imam Besar. Yang akan kita renungkan saat ini adalah tanggung jawab Harun untuk memasuki Ruang Maha Kudus demi pelayanan pendamaian, dan juga tanggung jawab Umat Israel untuk merendahkan diri dengan berpuasa agar ditahirkan dari segala dosanya.
Tanggung jawab Harun dalam mendekati Allah dengan memasuki Ruang Maha Kudus ini tidaklah ringan. Itu sebabnya Imamat pasal 16 dimulai dengan kalimat, "Sesudah kedua anak Harun mati, yang terjadi pada waktu mereka mendekat kehadapan Tuhan...” (ayat 1). Ini berarti Imam Besar Harun harus benar-benar mengikuti prosedur sebagaimana diatur pada pasal 16 ini. Demikian juga tanggung jawab bangsa Israel untuk merendahkan diri dengan berpuasa dan menjalankan aturan sabat, haruslah ditaati dengan benar. Semua ini terjadi agar Israel didamaikan dengan Allah, dan Allah tetap berdiam di tengah-tengah UmatNya.
Demikianlah ritual yang harus dilakukan keluarga Yakub agar Allah tetap berdiam ditengah-tengah mereka. Bagaimana dengan keluarga kita ? Sesungguhnya, kepada setiap keluarga Kristen yang mengikut Tuhan, Allah telah mempercayakan pelayanan pendamaian ini, sesuai dengan II Korintus 5:19 diatas. Tetapi bagaimana tanggung jawab suami sebagai "Imam Besar” dalam keluarganya ? Demikian juga, apakah isteri dan anak-anak telah "merendahkan diri dengan berpuasa” agar pelayanan pendamaian ini dapat terjadi ? Sering terjadi dimana keluarga Kristen bukan saja tidak dapat menjalankan pelayanan pendamaian ini, bahkan diantara anggota keluarga mereka sendiri, masih harus didamaikan satu dengan yang lainnya. Seringkali konflik didalam rumah tangga Kristen, membuat keluarga ini tidak dapat menjalankan pelayanan pendamaian. Semoga keluarga-keluarga Kristen dapat berfungsi sebagai utusan-utusan Kristus untuk memdamaikan dunia ini dengan Allah.
"Berbicaralah kepada Harun dan kepada anak-anaknya dan kepada seluruh orang Israel...Setiap orang dari kaum Israel yang menyembelih lembu atau domba atau kambing... tetapi tidak membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, untuk dipersembahkan sebagai persembahan kepada Tuhan... hal itu harus dihitungkan kepada orang itu sebagai hutang darah... " [ Imamat 17:2-4 ].
Peraturan diatas berlaku bagi keluarga Harun secara khusus, dan juga secara umum kepada keluarga Yakub. Peraturan ini sangat sederhana, yaitu setiap orang Israel yang menyembelih hewan, harus membawanya kedepan Kemah Pertemuan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Setiap pelanggaran terhadap peraturan ini dipandang sebagai hutang darah, atau hutang nyawa, karena nyawa ada didalam darah. Dan karenanya, orang Israel harus membayar kesalahan ini dengan nyawanya sendiri. Demikianlah peraturan yang ditetapkan Allah bagi keluarga Yakub.
Mengapa Allah menuntut kepada setiap orang Israel yang mencurahkan darah, agar mempersembahkannya kepada Tuhan ? Karena nyawa, atau kehidupan yang ada didalam darah adalah milik Tuhan. Hidup itu adalah milik Tuhan. Karenanya, setiap orang atau keluarga yang tidak mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan, dianggap mempersembahkannya kepada jin-jin, dan ini merupakan suatu perzinahan (Imamat 17:7).
Bagaimana kita menerapkan peraturan ini bagi keluarga kita sendiri ? Jelas bahwa kehidupan itu milik Tuhan, dan karenanya kita harus mempersembahkan seluruh energi dan kehidupan keluarga kita hanya kepada Dia saja. Inilah yang kita sebut pengabdian. Kehidupan suatu keluarga adalah milik Tuhan. Setiap kemampuan-kemampuan dalam suatu keluarga haruslah dipersembahkan bagi maksud-maksudNya. Bagaimana hal ini dapat terjadi ?
Didalam suatu keluarga, seorang bapa sebagai kepala keluarga, haruslah merencanakan dan mengerahkan seluruh daya dan energi yang ada dalam keluarganya bagi rencana Tuhan atas keluarga tersebut. Tuhan mempunyai rencana atas setiap keluarga. Tuhan memberikan tugas pelayanan pada setiap keluarga. Seorang bapa, sebagai kepala keluarga, haruslah mengenali tugas pelayanan yang dibebankan Tuhan atas keluarganya. Jika seorang bapa adalah seorang yang mengabdi kepada Tuhan, maka ia tentu akan mengetahui tugas apa yang dibebankan Tuhan atas dirinya. Dan tentu juga ia memahami bahwa tugas pelayanannya tidak hanya dibebankan Tuhan kepada dirinya saja, melainkan dibagikan juga kepada seluruh anggota keluarga.
Itu sebabnya, seorang bapa harus menjalankan tugas seorang manajer bagi keluarganya. Ia harus membuat rencana pelayanan, membagi-bagi tugas pelayanan, menggerakkan seluruh anggota keluarga agar menjalankan tugas pelayanannya masing-masing, serta terus menerus memeriksa dan mengawasi apakah keluarganya tetap berada di dalam rencana yang telah ditetapkan. Pendeknya, seorang bapa harus mengerahkan seluruh energi dan sumber daya keluarga agar hanya dipersembahkan bagi maksud-maksud Tuhan saja.
Contoh yang baik dalam hal ini mungkin adalah keluarga Nuh. Karena Nuh seorang yang mengabdi kepada Tuhan, maka ia mendapat tugas untuk membuat bahtera agar maksud-maksud Tuhan terlaksana dalam zamannya. Tidak mungkin Nuh membuat bahtera ini sendiri saja. Tentu ia mengerahkan seluruh energi keluarganya untuk membuat bahtera ini. Nuh telah berfungsi sebagai manajer bagi keluarganya. Itu sebabnya, seluruh keluarga Nuh yang berjumlah delapan orang, diselamatkan Tuhan.
Bagaimana dengan keluarga Kristen saat ini ? Apakah seorang bapa sudah cukup mengabdi kepada Tuhan sehingga Tuhan mempercayakan suatu pelayanan kepadanya ? Dan jika ia telah dipercaya oleh Tuhan suatu pelayanan, sudahkah ia berfungsi sebagai manajer bagi keluarganya ? Sudahkan ia mengerahkan seluruh energi kehidupan keluarganya bagi maksud-maksud Tuhan ? Semua pertanyaan ini sangat penting, karena menyangkut hidup atau matinya suatu keluarga dihadapan Tuhan.
"Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa " [ Imamat 17:11 ].
" ...mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba " [ Wahyu 7:14 ].
" Dan mereka telah mengalahkan dia ( iblis ) oleh darah Anak Domba...” [Wahyu 12:11]
Pada renungan sebelumnya telah kita lihat bahwa setiap keluarga Yakub yang mencurahkan darah, dan tidak mempersembahkannya kepada Tuhan, dianggap mempunyai hutang darah, dan harus membayar dengan nyawanya sendiri. Hal ini disebabkan karena darah (hidup) itu adalah milik Allah, dan bahwa setiap keluarga haruslah mempersembahkan seluruh energi kehidupannya hanya bagi Allah. Inilah suatu pengabdian yang diminta Allah dari setiap keluarga.
Tetapi, setelah suatu keluarga mempersembahkan seluruh energi kehidupannya kepada Allah, maka Allah sendiri mengatakan bahwa Ia akan memberikan darah (nyawa) itu sebagai pendamaian bagi nyawa kita, sebagaimana ayat kita diatas. Bagi keluarga Yakub, darah yang dimaksud adalah darah hewan korban. Itu sebabnya, keluarga Yakub dilarang memakan darah. Tetapi bagi kita, ini berarti darah Kristus, yaitu darah Anak Domba Allah.
Darah Kristus adalah HidupNya, dan kita, "...pasti akan diselamatkan oleh HidupNya (Roma 5:10). Darah Anak Domba juga membuat jubah (perbuatan-perbuatan kita) menjadi putih dihadapanNya. Darah Anak Domba juga membuat kita menang mutlak atas Iblis. Tuhan Yesuslah yang telah memberikan HidupNya kepada keluarga kita, sebagaimana tertulis, "...Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan ". Bagian kita adalah mengabdi kepadaNya dengan mengerahkan seluruh energi kehidupan keluarga kita, agar dipersembahkan hanya bagi maksud-maksudNya saja. Tetapi bagianNya adalah memberikan HidupNya bagi kemenangan kita. Jika kita sebagai keluarga, tekun menjalankan bagian kita, maka Ia juga akan melakukan bagianNya. Diperlukan kerja sama yang aktif agar kehendakNya terwujud.
Kita tidak perlu terlalu mempermasalahkan segala kekurangan yang masih ada dalam keluarga kita. Kita tidak boleh terfokus kepada kekurangan-kekurangan dalam keluarga kita. Suami tidak harus memikirkan terus menerus kekurangan isterinya, dan sebaliknya. Orang tua tidak harus kuatir dengan perkembangan anak-anak mereka. Sepanjang keluarga kita mengabdikan seluruh energi kehidupannya bagi Allah, dan bekerja sama dengan aktif, maka Ia akan melakukan bagianNya dengan memberikan HidupNya yang memungkinkan keluarga kita berkemenangan.
Namun, kita harus jelas bahwa bukan pengabdian, doa, baca Alkitab, dan pelayanan, yang membuat keluarga kita menang atas Iblis dan segala kelemahan. Tetapi hanya HidupNya yang membuat kita lebih dari pemenang. Kita berdoa, mengabdi, baca Alkitab dan seterusnya, disebabkan karena memang itu adalah kehendakNya. Tetapi kita menang karena darah Anak Domba. Jika keluarga kita berkemenangan, maka itu adalah semata-mata karena hidupNya. Kita tidak dapat bermegah. Semua karena hidupNya. Terpujilah darah Anak Domba...
"...Akulah TUHAN Allahmu. Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir...juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan...Kamu harus lakukan peraturanKu... ” [ Imamat 18:2-4 ].
"Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah [Ibrani 13:4].
Imamat pasal 18 penuh dengan peraturan-peraturan mengenai perkawinan. Semua peraturan ini diberikan Allah kepada keluarga Yakub agar ditaati. Allah melarang keluarga Yakub berbuat seperti kebiasaan orang-orang di Mesir dan Kanaan dalam hal-hal yang berkaitan dengan soal perkawinan. Jadi, keluarga Yakub memiliki tolok ukur dan peraturan yang berbeda dari bangsa-bangsa sekitarnya.
Alasan mengapa Allah memberikan semua peraturan perkawinan ini ialah karena bangsa Israel terikat oleh suatu perjanjian dengan Allah. "Akulah TUHAN Allahmu...”, demikianlah pembukaan isi perjanjian antara Allah dengan keluarga Yakub di Gunung Sinai (Keluaran 20). TUHAN berhak mengatur kehidupan perkawinan bangsa Israel, karena Ia adalah Allahnya Israel.
Demikianlah juga dengan keluarga-keluarga Kristen saat ini. Kita terikat oleh suatu perjanjian baru dengan Allah pencipta langit dan bumi, yang menyatakan DiriNya oleh Yesus Kristus. Karenanya, Allah berhak mengatur kehidupan perkawinan kita. Salah satu peraturannya adalah, "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan...”. Penuh hormat disini berarti tidak mempermainkan atau menganggap enteng hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan. Perkawinan Kristen merupakan perkara serius dihadapan Allah. Setiap orang yang melanggar peraturannya, akan terkena akibatnya. Secara khusus, ayat kita diatas berbicara mengenai kesucian perkawinan Kristen dengan menegaskan agar, "janganlah kamu mencemarkan tempat tidur ". Suami, dan juga isteri, dapat mencemarkan "tempat tidur”, jika "tempat tidur” sudah dikuasai hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor. Allah berkehendak agar kasih agape dan kasih eros yang ada diantara suami-isteri, dinyatakan dan terekspresi di "tempat tidur”.
Ayat kita selanjutnya berkata bahwa Allah akan menghakimi, dalam arti memberikan ganjaran kepada tiap-tiap orang, baik yang menjaga kesucian "tempat tidur” maupun yang tidak. Kita melihat contoh yang menyedihkan bagaimana Ruben kehilangan hak kesulungannya karena telah melanggar kesucian tempat tidur ayahnya (Kej. 49:4). Sebaliknya, Yusuf menerima hak kesulungan, juga karena ia telah menjaga kesucian tempat tidur Potifar (I Tawarikh 5:1). Disepanjang Alkitab, maupun sejarah kekristenan, kita dapat melihat contoh-contoh bagaimana Allah menghakimi UmatNya berkaitan dengan kesucian "tempat tidur”. Allah akan memberi upah kepada setiap anak-anakNya yang menjaga kesucian tempat tidur mereka.
Satu hal lagi yang dapat kita lihat dari ayat diatas. Kehidupan perkawinan dekat dengan kesucian tempat tidur, karena setelah Rasul berbicara mengenai menaruh hormat terhadap perkawinan, ia langsung masuk kepada perihal kesucian tempat tidur. Memang kehidupan perkawinan bukan soal tempat tidur saja, tetapi kesucian tempat tidur merupakan faktor penting dalam perkawinan Kristen.
"...Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu kudus " [ Imamat 19:2 ].
"Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus " [ I Korintus 7:14 ]
Imamat pasal 19 dimulai dengan suatu perintah agar keluarga Yakub menjadi kudus, sebab Allah yang memanggil mereka adalah kudus. Kudus artinya dipisahkan untuk suatu maksud-maksud tertentu. Jika sesuatu itu kudus, maka ia tidak dapat lagi digunakan untuk sesuatu hal yang biasa dan umum. Keluarga yang kudus bagi Allah mempunyai arti bahwa keluarga ini tidak dapat lagi dipakai untuk sesuatu yang bukan merupakan maksud-maksud Allah sendiri. Keluarga ini telah dipisahkan untuk segala sesuatu yang bersifat biasa dan umum, serta dikhususkan hanya bagi rencana Allah saja.
Kekudusan keluarga Yakub dihadapan Allah berarti bahwa keluarga Yakub haruslah melakukan semua perintah Tuhan, baik yang bersifat ritual (upacara-upacara korban dsb), maupun yang bersifat moral ( memiliki karakter Allah ). Pada Imamat pasal 19 ini, perintah Tuhan bagi keluarga Yakub agar menjadi kudus, lebih bersifat moral dari pada ritual. Keluarga Yakub dituntut untuk menyegani ayah dan ibunya (ay. 3), menjauhi penyembahan berhala (ay. 4), memperhatikan orang miskin dan orang asing (ay. 9-10, 13), bersikap adil dalam peradilan (ay. 15), serta perintah-perintah lain yang bersifat moral. Tuhan tidak berkenan jika umatNya hanya memperhatikan aspek ritualnya saja dalam menjaga kekudusan sebagai umat pilihanNya. Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di zaman Tuhan Yesus gagal dalam memiliki karakter Allah, dan terjebak dalam kekudusan secara ritual saja.
Tetapi ini bukan berarti Tuhan hanya memperhatikan aspek moral saja dalam mengungkapkan kekudusan. Bagi keluarga Yakub, mengungkapkan kekudusan baik aspek ritual maupun aspek moral, sama-sama penting. Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen ? Jelas, bahwa yang terutama, keluarga Kristen haruslah bertumbuh dalam karakter Allah untuk mengungkapkan kekudusannya. Aspek ritualnya bukan diabaikan sama sekali, karena surat Korintus banyak menyinggung aspek ritual dalam ibadah Kristen, seperti peraturan dalam pertemuan ibadah, baptisan, penudungan kepala, dsb. Namun, kita harus berhati-hati jangan sampai menekankan aspek ritualnya, sehingga menghasilkan keluarga-keluarga yang tekun menjalankan ritual ibadah, tetapi tidak bertumbuh dalam karakter Allah. Aspek ritual dalam ibadah Kristen harus ditempatkan pada proporsi yang tepat.
Ada hal menarik yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan kekudusan suatu keluarga Kristen. Dalam I Korintus 7:14 yang telah kita kutip diatas, ditegaskan bahwa seorang suami dapat menguduskan isterinya yang tidak beriman, dan sebaliknya. Bahkan, jika mereka mempunyai anak, maka anak-anak mereka adalah anak-anak yang kudus. Disini kita lihat suatu prinsip dalam keluarga, yaitu bahwa suami atau isteri sekalipun tidak beriman, namun ia dikhususkan bagi pasangannya. Dan, karena pasangannya kudus, maka suami atau isteri yang tidak beriman itu juga menjadi kudus. Jika prinsip ini dipahami dengan baik, maka wajarlah jika isteri atau suami yang beriman itu dapat dengan mudah menyelamatkan pasangannya dan membawanya mengikut Tuhan. Sangat ganjil, jika suami atau isteri hidup bersama selama puluhan tahun, namun salah satu dari mereka tetap tidak beriman. Semoga keganjilan seperti ini tidak terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen.
"Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku " [ Imamat 20:26 ].
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib " [ I Petrus 2:9 ].
Telah kita ketahui bahwa Kudus artinya dipisahkan untuk suatu maksud-maksud tertentu. Jika sesuatu itu kudus, maka ia tidak dapat lagi digunakan untuk sesuatu hal yang biasa dan umum. Keluarga yang kudus bagi Allah mempunyai arti bahwa keluarga ini tidak dapat lagi dipakai untuk sesuatu yang bukan merupakan maksud-maksud Allah sendiri. Keluarga ini telah dipisahkan untuk segala sesuatu yang bersifat biasa dan umum, serta dikhususkan hanya bagi rencana Allah saja.
Pada renungan yang lalu telah kita tegaskan bahwa kekudusan keluarga Yakub dihadapan Allah berarti bahwa keluarga Yakub haruslah mentaati segala perintah Allah, baik yang bersifat moral maupun yang bersifat ritual. Saat ini kita akan merenungkan sisi lain dari kekudusan keluarga Yakub, yang bermakna suatu hubungan. Artinya, keluarga Yakub disebut kudus karena ia mempunyai hubungan khusus dengan Allah. Hubungan khusus dengan Allah ini disebut hubungan perjanjian ( covenant relationship ). Allah sendiri yang telah memilih keluarga Yakub, serta memisahkannya dari bangsa-bangsa lain untuk memasuki suatu hubungan, yaitu hubungan perjanjian. Karena keluarga Yakub memasuki suatu hubungan perjanjian dengan Allah, maka keluarga Yakub sepenuhnya dimiliki Allah, seperti tertulis dalam Imamat 20:26 diatas.
Sebagai respon atas panggilan dan pilihan Allah, maka keluarga Yakub diminta untuk mentaati segala perintah Allah. Jadi, alasan mengapa keluarga Yakub dituntut mentaati segala perintah Allah adalah karena keluarga Yakub telah memasuki suatu hubungan perjanjian dengan Allah. Keluarga Yakub diminta untuk mengabdi sepenuhnya kepada Allah semata-mata karena suatu hubungan perjanjian.
Keluarga-keluarga Kristen saat ini juga telah memasuki suatu hubungan perjanjian dengan Allah Israel melalui darah Kristus yang tertumpah di kayu salib. Itu sebabnya keluarga Kristen juga diminta untuk mentaati dan mengabdikan dirinya hanya bagi Allah saja. Tingkat kekudusan keluarga Kristen tergantung dari sejauh mana ia mengabdikan dirinya bagi Allah.
Secara khusus, dalam I Petrus 2:9, pengabdian keluarga Kristen bagi Allah dinyatakan melalui ketaatan dalam hal memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kita dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib. Memberitakan perbuatan-perbuatan Allah bagi keluarga kristen merupakan suatu keharusan. Kita tidak diperintahkan untuk memberitakan, ataupun mempromosikan pelayanan keluarga kita bagi Allah, tetapi fokus pemberitaan kita adalah perbuatan Allah. Pengabdian kepada Allah berarti memberitakan perbuatan Allah. Semua ini kita lakukan dengan kesadaran bahwa kita telah memiliki hubungan perjanjian dengan Allah, kita dimiliki oleh Allah, kita telah dipisahkan oleh Allah dari keluarga-keluarga lainnya. Jika kita melakukannya dengan setia, berarti kita telah mentaati firman, "Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, TUHAN, kudus...”.
"...Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun... Mereka itu harus kudus bagi Allahnya dan janganlah mereka melanggar kekudusan nama Allahnya, karena merekalah yang mempersembahkan segala korban api-apian TUHAN, santapan Allah mereka, dan karena itu haruslah mereka kudus " [ Imamat 21:1, 6 ].
"karena setiap orang yang bercacat badannya tidak boleh datang mendekat: orang buta, orang timpang, ...atau yang rusak buah pelirnya " [ Imamat 21:18-20 ].
"Mengenai santapan Allahnya... boleh dimakannya " [ Imamat 21:22 ].
Keluarga Harun, dalam arti Harun dan keturunannya, telah dipilih Tuhan menjadi imam-imam. Keluarga Harun haruslah kudus, karena merekalah yang mempersembahkan segala korban api-apian Tuhan, yang adalah santapan Allah mereka.
Pemilihan Allah atas keluarga Harun terjadi semata-mata karena kehendakNya. Bukan karena keluarga Harun telah kudus, maka Allah memilih mereka menjadi imam-imam. Tetapi, karena Allah telah memilih mereka menjadi imamNya, maka mereka diminta untuk menjadi kudus sama seperti Dia yang adalah Kudus.
Tidak ada harga yang dibayar oleh keluarga Harun, ketika Allah memilihnya. Namun, ketika pilihan itu datang, maka ada harga yang harus dibayar untuk mendekat kepada Allah dan berfungsi sebagai imam bagiNya. Ada standard tertentu untuk datang mendekat kepada Allah. Seorang imam keturunan Harun tidak boleh bercacat badannya, tidak boleh buta, timpang, ataupun cacat lainnya. Memang mereka yang bercacat, tetap boleh memakan santapan Allahnya, tetapi mereka tidak boleh datang mendekat kepada Allah.
Kita lihat disini bahwa ada perbedaan antara terpilih menjadi imam serta menikmati santapan Allah, dengan mendekat kepada Allah dan berfungsi sebagai imam-imam. Terpilih menjadi imam dan menikmati santapan Allah, tidak memerlukan kedewasaan apapun. Tetapi untuk berfungsi sebagai imam-imam, memerlukan kedewasaan.
Seorang yang berfungsi sebagai imam haruslah memiliki penglihatan rohani ( "tidak buta” ), berjalan di jalan Tuhan ( "tidak timpang” ), berbuah banyak ( "tidak rusak buah pelirnya” ), dan persyaratan-persyaratan lainnya. Diperlukan disiplin Tuhan agar dapat berfungsi sebagai imam-imam Allah. Diperlukan pertumbuhan iman dan karakter Allah, agar dapat mendekat kepadaNya.
Keluarga-keluarga Kristen perlu bertumbuh dalam penglihatan rohani agar berfungsi sebagai imam bagi Allah. Pertumbuhan dalam firman dan pewahyuan haruslah terjadi dalam setiap keluarga Kristen, yang ingin mendekat kepada Allah dan melayaniNya sebagai imam-imam. Keluarga Kristen perlu belajar berjalan di jalan Tuhan, dan menghasilkan keluarga-keluarga lain yang juga dapat berfungsi sebagai imam.
Seharusnya, keluarga Kristen, janganlah "bercacat badannya” sehingga hanya dapat menikmati berkat santapan Allah mereka, tetapi tidak dapat berfungsi sebagai imam-imam bagi Allah. Keluarga-keluarga Kristen yang hanya dapat menikmati "santapan Allah” yang disajikan oleh para pengkhotbah setiap minggunya, namun tidak mampu memiliki tanggung jawab pelayanan, adalah keluarga Kristen yang "bercacat badannya”. Semoga keluarga kita dapat mendekat kepada Allah, dan berfungsi sebagai imam-imam bagi kepentingan Allah.
"Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya, supaya mereka berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi-Ku, agar jangan mereka melanggar kekudusan namaKu yang kudus; Akulah Tuhan " [ Imamat 22:2 ].
"...supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup...”[Roma 12:1].
"...marilah kita...senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya " [ Ibrani 13:15 ].
Didalam Imamat 22:2 diatas, keluarga Harun diperintahkan agar berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi Tuhan. Yang dimaksud dengan berlaku hati-hati adalah agar keluarga Harun tidak memakan persembahan-persembahan yang dikuduskan orang Israel bagi Tuhan, sementara mereka dalam keadaan najis.
Keadaan najis keluarga Harun dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya, sakit kusta, mengeluarkan lelehan, kena kepada sesuatu yang najis, dan yang lainnya. Jadi, keluarga Harun haruslah dalam keadaan tahir, kemudian dapatlah mereka memakan persembahan-persembahan kudus.
Bukan saja keluarga Harun yang dituntut untuk tahir, tetapi juga persembahan itu sendiri haruslah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, agar persembahan itu dapat diterima Allah. Segala sesuatu yang berkaitan dengan persembahan, haruslah memenuhi peraturan yang ada. Semuanya ini terjadi agar Umat pilihanNya tidak melanggar kekudusan Nama Tuhan.
Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen saat ini ? Allah berkehendak agar keluarga kristen saat ini juga berlaku hati-hati terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan persembahan-persembahan. Berlaku hati-hati disini berarti keluarga Kristen haruslah dalam "kondisi tahir". Keluarga Kristen haruslah dalam kondisi penuh dengan Roh Kudus. Keluarga Kristen haruslah juga dalam kondisi bertumbuh dalam karakter Kristus hari lepas hari. Keluarga Kristen haruslah berada didalam kehendak dan rencanaNya.
Jika keluarga Kristen berada dalam "kondisi tahir”, maka ia dapat mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepadaNya ( Roma 12:1 ). Inilah keluarga yang beribadah dengan sesungguhnya.
Keluarga ini juga dapat senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya. Dalam percakapan sehari-hari, nama Tuhan dipermuliakan. Tidak ada kata-kata tajam, pedas, dan yang saling melukai. Tidak ada sungut-sungut. Keluarga ini dipenuhi oleh kata-kata pujian, dan saling membangun.
Demikian juga keluarga ini dapat mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah ( I Petrus 2:5 ). Semua ini dimungkinkan karena keluarga ini dalam "kondisi tahir”, yaitu kondisi penuh dengan Roh Kudus. Semoga keluarga kita berada dalam kondisi sedemikian.
"Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap " [ Imamat 23:4 ].
Di dalam Imamat pasal 23, keluarga Yakub diperintahkan untuk merayakan hari-hari raya yang telah ditetapkan Tuhan menurut kehendakNya. Ada tiga hari raya utama yang ditetapkan Tuhan. Pertama, hari raya Paskah. Kedua, hari raya Pentakosta. Ketiga, hari raya Tabernakel.
Pada hari raya Paskah, keluarga Yakub diperintahkan untuk menyembelih seekor domba, dimana darahnya harus dipercikkan pada ambang pintu, dan semua dagingnya harus dimakan didalam rumah. Setelah keluarga Yakub keluar dari perbudakan di Mesir, mereka dipimpin Tuhan menuju gunung Sinai, dimana di gunung ini mereka merayakan hari raya Pentakosta, pada bulan ketiga setelah mereka keluar dari Mesir. Di gunung Sinai inilah mereka menerima Hukum Taurat, dengan segala peraturannya. Juga di gunung Sinai mereka diperintahkan untuk mendirikan Kemah Suci. Pada penutupan masa tuaian pada setiap tahun, keluarga Yakub diperintahkan untuk menyisihkan 7 hari bagi Tuhan, untuk merayakan hari raya Tabernakel. Pada hari-hari ini, mereka meninggalkan rumah dan tinggal dalam pondok-pondok yang dibuat dari pelbagai pohon ( daun-daun ), serta bersukaria dihadapan Tuhan. Pada waktu-waktu ini meraka merayakan Sabat. Hari raya Tabernakel merupakan kelanjutan dari hari raya Paskah, dan merupakan akhir dari apa yang dimulai pada hari raya Paskah.
Yang perlu kita pahami disini ialah, bahwa hari-hari raya yang ditetapkan Tuhan menjadi suatu pengalaman tertentu bagi bangsa Israel. Dan pengalaman ini adalah suatu pengalaman yang berkesinambungan.
Sebenarnya, pengalaman apakah yang seharusnya kita alami sebagai keluarga Allah, berkaitan dengan hari-hari raya yang ditetapkan Tuhan bagi keluarga Yakub ? Pertama, pengalaman Paskah bagi kita adalah pengalaman kelahiran baru dan pertumbuhannya, dimana dosa-dosa kita dihapuskan oleh korban Kristus, dan "dagingNya” kita makan demi pertumbuhan iman kita. Kedua, pengalaman Pentakosta bagi kita adalah pengalaman dimana kita dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus sehingga kita menjadi saksiNya dan berani memberitakan firman Tuhan. Ketiga, pengalaman Tabernakel bagi kita adalah pengalaman dimana kita masuk kedalam peristirahatan Tuhan. Kita mengalami "sabat”, yaitu hari perhentian dimana segala usaha diri sendiri terhenti. Kita dilepaskan dari segala jerih payah kedagingan kita. Kita dibebaskan dari segala kekuatiran dan segala ketakutan kita. Inilah kondisi dimana kita dapat tinggal tenang didalam Tuhan.
Semua pengalaman yang telah kita uraikan diatas, dapat kita alami sebagai keluarga. Keluarga kita dapat mengalami kelahiran baru dan mengalami pertumbuhan iman setiap harinya. Keluarga kita juga dapat mengalami kuasa Roh Kudus, dan menjadi saksiNya yang berani memberitakan Firman Tuhan. Keluarga kita juga seharusnya menjadi keluarga yang "beristirahat”, dalam arti tidak kuatir, takut, atau berusaha dengan kekuatan sendiri, serta penuh dengan konflik dan pertentangan.
Jika keluarga kita mendapat kasih karunia dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, maka keluarga kita akan sampai kedalam perhentian Tuhan, kedalam ketenangan Kristus. Amin.
"...supaya lampu dapat dipasang dan tetap menyala. Harun harus tetap mengatur lampu-lampu itu... dari petang sampai pagi, dihadapan Tuhan...” [ Imamat 24:2-3 ].
"Engkau harus mengambil tepung yang terbaik dan membakar dua belas roti bundar... menjadi bagian ingat-ingatan roti itu, yakni suatu korban api-apian bagi Tuhan...[Imamat 24:5,7].
"Siapa yang menghujat nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu...” [ Imamat 24:16 ].
"...sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar " [ Yes. 26:9 ].
Didalam pasal 24 kitab Imamat ini, kita akan melihat tiga hal yang diperintahkan Tuhan kepada keluarga Yakub, yang mana menjadi suatu pelajaran bagi kita sebagai keluarga-keluarga yang ada didalam Kristus. Hal pertama yang dinyatakan Tuhan adalah tanggung jawab Harun sebagai Imam, agar lampu didalam Kemah Suci tetap menyala. Hal kedua mengenai 12 roti bundar yang diletakkan dihadapan Tuhan, dan dibubuhi kemenyan sebagai bagian ingat-ingatan roti itu. Hal ketiga adalah mengenai penghakiman Allah.
Hal pertama yang dinyatakan Tuhan disini adalah tanggung jawab Harun agar lampu tetap menyala. Yang terutama harus diatur Harun tentu adalah minyaknya. Jika minyak lampu tetap dijaga jangan sampai habis, maka otomatis lampu tetap menyala. Tentunya minyak disini menjadi simbol untuk Roh Kudus. Harun sebagai Imam dalam keluarga Yakub, bertanggung jawab untuk tugas ini. Demikian juga dengan bapa-bapa sebagai imam dalam keluarganya, ia juga bertanggung jawab menjaga hubungan dengan Roh Kudus agar supaya keluarganya tetap "menyala” dihadapan Tuhan. Seluruh anggota keluarga akan menikmati terang Kristus, namun tanggung jawab agar terang itu tidak padam berada ditangan seorang bapa sebagai imam. Inilah yang harus direnungkan oleh setiap bapa didalam keluarga Kristen.
Hal kedua mengenai 12 roti yang menjadi simbol kedua belas suku Israel. Kedua belas roti yang diunjukkan dihadapan Tuhan ini mengungkapkan bahwa kedua belas suku Israel tetap diingat dihadapan Tuhan, dan tetap berada dalam kesatuan ilahi, apapun keadaan lahiriah mereka. Walaupun terlihat saat ini kedua belas suku Israel terpecah belah, namun pada akhirnya, "...seluruh Israel akan diselamatkan ". Hal kedua yang dinyatakan Tuhan disini adalah tentang kesatuan ilahi yang tetap diingat dan dipelihara oleh Tuhan sendiri. Keluarga Kristen, terlepas dari penampilan luaran mereka atau apapun masalah yang sedang mereka hadapi saat ini, tetap diingat dihadapan Tuhan dan tetap dipelihara Tuhan sedemikian sehingga kesatuannya tetap terjaga. Kesatuan adalah berkat yang dijanjikan Tuhan sendiri bagi setiap keluarga Kristen. Kita harus belajar percaya bahwa Tuhan pasti menggenapi janjiNya. Boleh jadi saat ini, keluarga kita dalam kondisi terpecah-pecah. Namun, iman tidak melihat keadaan saat ini, tetapi melihat keadaan seperti yang telah dijanjikan Tuhan akan terjadi pada waktuNya.
Hal selanjutnya adalah mengenai penghakiman Allah. Kita harus melihat penghakiman sebagai suatu tindakan koreksi Allah agar orang belajar apa yang benar ( lihat Yesaya 26:9 ). Penghakiman Allah bukanlah suatu tindakan penghancuran. Seharusnya, kita sebagai keluarga Kristen, senantiasa dan selalu merindukan penghakiman Allah, agar kita dapat belajar apa yang benar.
Jika keluarga kita tetap "menyala” dihadapan Tuhan, maka kita dapat beriman bahwa Tuhan akan menghadirkan kesatuan ilahi kedalam keluarga kita, pada waktuNya. Dan kesatuan ini datang melalui tindakan penghakiman Allah yang memulihkan itu. Semoga keluarga kita memahami ketiga hal ini dengan baik.
"Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya... jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya " [ Imamat 25:10-11 ].
"Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman dahulu " [Kis. 3:21].
Setiap lima puluh tahun, yang disebut tahun Yobel, terjadi perubahan di tanah Israel. Ada 4 hal yang terjadi di tahun Yobel. Pertama, seluruh keluarga Yakub menikmati setahun penuh liburan kudus. Saat penuh sukacita, dimana tidak ada musim menabur dan menuai, dan tidak ada kerja keras. Kedua, semua hutang dibatalkan. Ketiga, kebebasan diberitakan kepada seluruh anggota keluarga Yakub yang berada dalam perhambaan. Keempat, kembalinya milik pusaka mereka yang terpaksa harus menjualnya sehubungan dengan kemiskinan atau karena mereka menyerahkan semua itu kepada si pemberi pinjaman dalam usaha membayar hutang-hutang mereka.
Peraturan tahun Yobel yang Allah tetapkan bagi keluarga Yakub sangat penting. Ini merupakan tahun dimana keluarga Yakub mengalami sabat kudus, suatu saat perhentian penuh. Mereka mempunyai hari sabat, setiap hari ketujuh. Mereka juga mempunyai tahun sabat setiap tahun yang ketujuh. Namun, setiap tujuh kali tahun sabat, keluarga Yakub diberi tahun Yobel, yaitu sabat segala sabat, tahun perhentian penuh.
Apa makna tahun Yobel bagi kita, sebagai keluarga Allah? Tidak diragukan lagi, bahwa tahun Yobel bagi keluarga Yakub, berarti waktu pemulihan segala sesuatu bagi kita, seperti tertulis dalam Kis. 3:21 diatas. Waktu pemulihan segala sesuatu memang akan terjadi di masa yang akan datang. Suatu kondisi dimana musuh yang terakhir, yaitu maut, yang merupakan upah dosa, telah dibinasakan ( I Kor. 15:26 ). Segala sesuatu yang merupakan akibat dosa, telah ditaklukkan. Inilah suatu kondisi dimana Allah menjadi semua didalam semua. Suatu kondisi dimana kita mengalami perhentian penuh. Sabat segala sabat.
Tetapi, dapatkah kita mengalami saat "perhentian penuh” saat ini ? Atau haruskah kita menunggu saat "perhentian penuh” ini dimasa yang akan datang ? Dapatkah keluarga kita saat ini mencicipi, walaupun tidak sepenuhnya, suatu saat perhentian penuh, sabat segala sabat ? Saat dimana kita beristirahat didalam Tuhan, dibebaskan dari segala rasa takut, gelisah, stress, dan kerja keras yang tiada hentinya.
Kami yakin Tuhan berkehendak agar kita mengalaminya atau mencicipi saat perhentian penuh itu sekarang, ketika kita ada dimuka bumi ini. Tuhan Yesus berkata, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan ". Persoalannya adalah, apakah kita mau belajar langsung dari Tuhan Yesus, agar kita menjadi lemah lembut dan rendah hati ? Jika, keluarga kita cukup lemah lembut dan rendah hati, maka ketenangan jiwa yang dijanjikan Tuhan , akan terjadi. Jika suami dan isteri cukup lemah lembut dan rendah hati, maka ketenangan dalam rumah tangga akan terjadi. Semoga rumah tangga kita semakin hari semakin tenang, dan kita mengalami sabat segala sabat di muka bumi ini.
"...bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku akan mengingat perjanjianKu dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjianKu dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga ". [ Imamat 26:41-42 ].
"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan pada kita segala berkat rohani didalam sorga " [ Efesus 1:3 ].
Imamat pasal 26, yang akan kita renungkan saat ini, menguraikan berkat atau hajaran Allah yang akan dialami oleh keluarga Yakub, tergantung bagaimana mereka berlaku terhadap perjanjianNya. Jika keluarga Yakub tetap memelihara perjanjianNya, serta senantiasa mendengarkan suara Tuhan Allah mereka, maka berkat Allah akan menyertai mereka. Tetapi sebaliknya, jika mereka meninggalkan jalan Tuhan dan tidak setia memegang perjanjianNya, maka mereka akan mengalami hajaran dan disiplin Tuhan sampai mereka bertobat dan membayar pulih kesalahannya.
Kita perlu menyadari kondisi keluarga Yakub dihadapan Allah. Keluarga Yakub adalah keluarga yang diberkati. Kondisi keluarga Yakub yang diberkati ini disebabkan mereka adalah keturunan Abraham, yang telah diberkati Tuhan. Kepada Abraham, Allah telah mengikat suatu perjanjian berkat, yang mana tidak mungkin dibatalkanNya. Abraham dan keturunannya, telah ditetapkan sebagai keluarga yang diberkati Allah. Jadi, jika keluarga Yakub, pada saat tertentu, gagal mentaati dan memelihara perjanjianNya, maka Allah bertindak mendisiplin dan menghajar keluarga ini, tetapi bukan dengan maksud mengutuk. Karena keluarga Yakub telah ditetapkan sebagai keluarga yang diberkati Allah.
Demikian juga saat ini dengan keluarga-keluarga yang ada didalam Kristus Yesus. Mereka adalah keluarga yang telah ditetapkan Allah untuk menerima berkat-berkatNya. Jika pada saat tertentu, keluarga ini tidak setia kepada Tuhan, maka mereka akan mengalami hajaran dan disiplin Tuhan, tetapi bukan mengalami kutuk Tuhan. Bagi keluarga-keluarga didalam Kristus, yang ada hanya berkat Allah, dan juga hajaran Allah jika mereka tidak taat. Tidak ada lagi kutuk. Semua kutuk telah dipikul oleh Kristus Yesus. Hajaran Allah diberikan dengan maksud agar keluarga-keluarga ini tetap hidup dalam berkat Allah.
Namun demikian, ada satu hal yang kita semua perlu perhatikan. Yaitu bahwa, ada pergeseran pengertian yang terjadi pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Didalam Perjanjian Lama, Bait Allah adalah sebuah bangunan, tetapi dalam Perjanjian Baru, Bait Allah adalah orang percaya. Didalam Perjanjian Lama, penyembahan haruslah dilakukan di kota Yerusalem, tetapi dalam Perjanjian Baru, penyembahan haruslah didalam roh dan kebenaran. Demikian seterusnya, kita akan melihat adanya pergeseran pengertian, sesuai dengan sifat dasar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Karenanya, berkat Allah didalam Perjanjian Lama terutama bersifat jasmani dan materi, namun didalam Perjanjian Baru, berkat Allah terutama bersifat rohani. Itu sebabnya Efesus 1:3 yang telah kita kutip diatas, berbicara tentang segala berkat rohani didalam sorga. Ini bukan berarti berkat Allah bagi keluarga kita saat ini, hanya dapat dinikmati kelak jika kita telah berada di sorga. Tetapi berkat Allah saat ini bagi kita terutama bersifat rohani, dan kita alami didalam roh kita saat ini. Mengenai berkat jasmani dan materi bagi keluarga kita saat ini, Alkitab berkata bahwa, "...semuanya itu akan ditambahkan kepadamu "( Matius 6:33 ). Tuhan akan memberikan berkat materi kepada keluarga kita sesuai dengan hikmatNya, dan maksud-maksudNya.
Semoga keluarga kita tetap hidup dihadapanNya, dan setia memegang PerjanjianNya, sehingga keluarga kita tetap berjalan didalam berkat Allah.
"Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka : Apabila seseorang mengucapkan nazar khusus kepada Tuhan mengenai orang menurut penilaian yang berlaku untuk itu, maka tentang nilai bagi orang laki-laki...lima puluh syikal perak...” [Imamat 27:2-3].
"Lalu bernazarlah Yakub : ‘Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku...Tuhan akan menjadi Allahku...Dari segala sesuatu yang engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu " [ Kej. 28:20-22 ].
"Paulus...sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar...”[Kis. 18:18].
Nazar memiliki arti suatu janji yang diucapkan seseorang kepada Tuhan. Pengertian nazar, baik didalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, tidak pernah bermakna suatu janji yang diucapkan seseorang kepada orang lainnya. Tetapi, nazar selalu suatu janji yang diucapkan kepada Tuhan. Nazar adalah suatu ekspresi yang tidak lazim dari komitmen atau pengabdian seseorang kepada Tuhan. Nazar adalah suatu tindakan sukarela. Seseorang tidak bersalah jika ia bernazar, atau tidak bernazar. Tetapi, sekali nazar itu diucapkan oleh seseorang, maka ia harus menepatinya. Lebih baik tidak bernazar daripada bernazar namun tidak menepatinya.
Didalam Perjanjian Lama, khusus bagi keluarga Yakub, jika seseorang bernazar, maka ada beberapa peraturan yang harus diikutinya. Imamat pasal 27 berbicara tentang nazar mengenai orang, hewan, rumah, ladang, juga mengenai perpuluhan yang merupakan hak Tuhan. Saat ini kita akan membicarakan nazar yang berkaitan dengan orang.
Nilai penebusan atau penukaran orang yang bernazar, menurut peraturan dalam Imamat 27, berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin. Nilai penukaran yang tertinggi adalah laki-laki usia antara 20-60 tahun, yaitu 50 syikal perak. Nilai tebusan ini tertinggi karena kapasitas (kemampuan bekerja dan melayani) orang dihadapan Tuhan mencapai puncaknya pada seorang laki-laki usia 20-60. Ini berbicara mengenai kapasitas seseorang dihadapan Tuhan. Tetapi, dalam Keluaran 30:15, untuk nilai pendamaian bagi nyawa seseorang, semuanya sama yaitu setengah syikal. Jadi, jika berbicara soal nilai pendamaian nyawa seseorang dihadapan Tuhan, maka semua sama. Tetapi, jika berbicara soal kapasitas seseorang dihadapan Tuhan, maka nilainya berbeda-beda. Penerapannya bagi kita sekarang yaitu bahwa, nilai tukar kita yang berkaitan dengan pendamaian nyawa adalah sama yaitu semahal darah Kristus. Namun, kapasitas kita dalam bekerja dan melayani Allah tidaklah sama. Itu sebabnya, jika yang bernazar adalah seorang yang dewasa dalam Kristus, akan mempunyai nilai berbeda dihadapan Tuhan dibanding seorang yang belum dewasa didalam Kristus. Jika dalam suatu keluarga, seorang bapa bernazar, tentu nilainya dihadapanTuhan berbeda dibanding anaknya yang bernazar.
Kita melihat contoh bagaimana Yakub, dan juga Paulus bernazar. Yakub bernazar bahwa, jika Allah akan menyertai dan akan melindunginya, maka Tuhan akan menjadi Allahnya, dan dari segala sesuatu yang diberikan kepadanya akan selalu dipersembahkannya sepersepuluh kepada Tuhan. Ini adalah janji Yakub kepada Tuhan. Inilah ekspresi pengabdiannya kepada Tuhan. Yakub mempunyai hati yang condong kepada Tuhan, tetapi pada awalnya, imannya belumlah teguh. Kami percaya bahwa nazar Yakub kepada Tuhan membuat hubungan keduanya menjadi semakin baik. Demikian juga dengan nazar Paulus. Kita tidak tahu apa yang dinazarkannya, tetapi kita juga percaya bahwa nazarnya membuat hubungan Paulus semakin dekat dengan Tuhan.
Sebagai seorang bapa, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk mengucapkan nazar khusus kepada Tuhan. Mungkin itu berkaitan dengan anak kita, usaha kita, atau pelayanan kita. Karena kami percaya, nazar yang diucapkan dengan iman, akan membuat hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat. Tetapi, memang lebih baik tidak bernazar daripada bernazar dan tidak menepati nazar kita. Semuanya harus dipertimbangkan dengan baik.