KOMUNITAS KERAJAAN

Kejadian 1:1 menyatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Allah mempunyai rencana dalam menciptakan segala sesuatunya. Ketika Ia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas seluruh bumi”, Ia bermaksud agar manusia yang segambar dan serupa denganNya dipercayakan untuk memerintah bumi ini. Fokus Allah adalah bumi ini. Sementara itu banyak orang kristen fokusnya adalah sorga. Bangku-bangku “gereja” dipenuhi oleh orang-orang yang ingin ke surga. Pengkhotbah-pengkhotbah juga berteriak : “Percaya Yesus, masuk surga”. Di tambah lagi dengan ajaran “pengangkatan”, membuat orang semakin ingin diangkat dari bumi ini ke suatu tempat entah dimana. Semua ini bertentangan dengan rencana Allah.

Kehendak Allah adalah manusia memerintah bumi ini. KehendakNya adalah agar kerajaan Sorga datang ke muka bumi ini. MaksudNya adalah agar kehendakNya terjadi di bumi, seperti juga di sorga. Dalam Filipi 3:20-21 ada tertulis, “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini …”. Jadi dari dalam surgalah kita menantikan manifestasi Kristus dimuka bumi ini. Bumi … bumi … bumi, itulah fokus Allah.

Dalam menggenapkan rencanaNya, Allah menempatkan manusia di dalam Taman Eden agar mengusahakan dan memelihara taman itu (Kejadian 2:15). Sebelum manusia berkuasa atas seluruh bumi, Tuhan ingin agar manusia berkuasa atas Taman Eden. RencanaNya yang besar, dimulai dengan sesuatu yang kecil, demikianlah jalan Allah. Manusia yang ditempatkanNya didalam Taman Eden, perlu mengalami proses sehingga dapat menguasai bumi. Salah satu proses  yang perlu dialami manusia adalah mengalami kejatuhan kedalam alam maut. Banyak orang mengira Allah terkejut ketika manusia jatuh dalam dosa, dan dengan tergesa-tergesa merencanakan tindakan penyelamatan melalui Yesus Kristus. Sebenarnya Allah yang merencanakan semua itu, sesuai dengan yang tertulis dalam Roma 8:20, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya”.

Melalui proses yang panjang dari Taman Eden, kejatuhan, penebusan oleh Kristus Yesus, akhirnya sampailah manusia kepada kota Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah mempelai Anak Domba (Wahyu 21:9-10). Ditegaskan bahwa Yerusalem Baru (mempelai Anak Domba) TURUN DARI SORGA (ay.10) untuk MEMERINTAH SEBAGAI RAJA (Wahyu 22:5). Demikianlah genap rencana Allah dalam Kejadian 1:26 seperti telah kita kutip diatas yaitu bahwa manusia berkuasa atas seluruh bumi. Manusia Kristus Yesus sebagai Raja segala raja (Wahyu 19:16) dan mempelaiNya sebagai raja-raja, memerintah bumi ini.

Apakah maksud sesungguhnya Tuhan Yesus datang ke bumi ini? Memang benar bahwa Ia datang supaya kita mempunyai hidup serta memilikinya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Juga benar bahwa Ia datang untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan iblis (I Yohanes 3:8). Maksud kedatanganNya seperti tertulis dalam Yohanes 10:10, berkaitan dengan keberadaan manusia; sementara itu maksud kedatanganNya seperti tertulis dalam I Yohanes 3:8, berkaitan dengan keberadaan iblis. Tetapi apa maksud kedatanganNya ke bumi ini yang berkaitan dengan keberadaanNya sendiri? Didalam Yohanes 18:37 ada tertulis, “… Jawab Yesus : Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang kedalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran …” Yesus Datang ke bumi ini karena Ia adalah Raja. Dan Ia memberi kesaksian tentang kebenaran (truth = reality = apa adanya sesuatu itu). Artinya Ia datang ke dunia ini menyatakan APA ADANYA IA SEBAGAI RAJA. Selanjutnya Ia menegaskan bahwa setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraNya (ay.37). mempelaiNya adalah orang-orang yang berasal dari kebenaran dan mereka mendengarkan suara Yesus, serta mengakui Yesus adalah Raja. Jadi maksud kedatangan Yesus adalah menyatakan bahwa Ia adalah Raja dan hal ini mempunyai implikasi bahwa Yesus akan menegakkan kerajaanNya dimuka bumi ini.

Demikianlah maksud kedatangan Yesus yang terdalam, yaitu Ia menegakkan kerajaanNya DI MUKA BUMI INI. Pada akhirnya semua kerajaan di dunia ini akan menjadi kerajaan Kristus dan yang diurapiNya (Wahyu 11:15, “… The kingdoms of this world have become the kingdoms of our Lord and of his Christ”, versi The New King James). Hal ini sesuai dengan nubuat didalam Daniel 2:44 sebagai berikut : “Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain; kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya”.

Ketika Yesus datang ke muka bumi ini, Ia berkata, “… Aku akan mendirikan jemaatKu …” (Matius 16:18). Istilah jemaat atau gereja saat ini telah dikacaukan dan disamakan artinya dengan istilah denominasi. Padahal makna kedua istilah tersebut amat sangat berbda, seperti perbedaan antara langit dan bumi. Saat ini banyak orang Kristen dengan sembangan menyebut gereja adalah denominasi, dan denominasi adalah gereja tanpa merasa bersalah atau sedih, seolah-olah semuanya itu biasa-biasanya saja. Jadi apakah perbedaan gereja dan denominasi ? Perbedaannya ialah ini; gereja didirikan oleh Yesus, sementara itu denominasi didirikan oleh para pemimpin (“Diotrefes-diotrefes”,III Yohanes 9). Yang satu didirikan oleh manusia “langit”, yang lain didirikan oleh manusia “bumi”. Yang satu didirikan oleh manusia roh, yang lain didirikan oleh manusia daging. Yang satu adalah gereja “Wahyu pasal 12”, yang lain adalah gereja “Wahyu pasal 17”. Apabila Tuhan telah mewahyukan pada kita perbedaan antara perempuan di Wahyu 12 dengan perempuan di Wahyu 17, maka kita tidak akan menganggap remeh kedua istilah tersebut apalagi menyamakannya. Kita tidak akan bermain-main lagi dengan istilah gereja dan denominasi. Gereja adalah gereja, denominasi adalah denominasi. Dan maksud kedatangan Yesus adalah mendirikan gerejaNya.

Istilah dan juga konsep gereja didalam Perjanjian Baru sangat sederhana walaupun bukan berarti dangkal. Didalam Perjanjian Baru, gereja adalah kumpulan orang-orang percaya (roh, jiwa dan tubuhnya) di suatu kota tertentu. Itu sebabnya nama gereja didalam Perjanjian Baru hanya dihubungkan dengan nama kota misalnya gereja di Yerusalem, gereja di Filipi, gereja di Korintus dll. Kalau demikian bagaimana hubungan antara gereja dan kerajaan sorga/kerajaan Allah?

Kerajaan sorga dan kerajaan Allah adalah dua istilah dengan makna yang sama, karena di dalam Perjanjian Baru kedua istilah ini dipakai berganti-gantian. Kerajaan sorga menunjukkan pada kerajaan yang ada di sorga, sementara kerajaan Allah menunjukkan pada kerajaan milik Allah. Kerajaan sorga tidak bisa dilihat dengan mata jasmani, sementara itu gereja dapat dilihat dengan mata jasmani. Untuk masuk kedalam kerajaan sorga perlu lahir baru dan mengalami banyak sengsara (Kis14:22), tetapi untuk menjadi anggota gereja cukup hanya lahir baru saja. Kerajaan sorga belum datang sepenuhnya di muka bumi ini, tetapi gereja sudah datang sepenuhnya di muka bumi ini. Tetapi karena gereja telah pecah menjadi beribu-ribu denominasi, maka saat ini gereja tidak dapat dilihat dengan mata jasmani lagi. Seandainya gereja tidak pecah, di kota Jakarta ini misalnya, hanya ada satu gereja yaitu gereja di Jakarta. Tetapi saat ini gereja di Jakarta telah pecah dan anggota-anggotanya (mereka yang telah lahir baru) tersebar di berbagai denominasi-denominasi yang ada di Jakarta ini.

Sebelum kita mendefinisikan komunitas kerajaan, diharapkan kita memahami bahwa menjadi anggota gereja hanyalah merupakan langkah awal saja. Diperlukan langkah-langkah berikutnya untuk mendapatkan kerajaan sorga. Dan Kisah para rasul 14:22 dengan tegas menyatakan bahwa langkah-langkah selanjutnya penuh dengan kesengsaraan dan disiplin. Apabila kita terpanggil dan mendapatkan anugerah, maka sejangka waktu setelah kita mengalami disiplin dan kesengsaraan, maka Tuhan mengaruniakan kerajaan sorga kepada kita. Mendapatkan kerajaan sorga adalah suatu pengalaman yang pasti, se-pasti dan se-jelas pengalaman lahir baru. Apabila kita telah benar-benar mengalami ini, maka Filipi 3:20-21 yang telah kita kutip diatas menjadi jelas bagi kita. Kewargaan kita adalah didalam sorga (kerajaan sorga) dan dari dalam kerajaan sorgalah kita menantikan Tuhan Yesus Kristus untuk memanifestasikan diriNya serta menghadirkan kerajaan sorga DI MUKA BUMI INI. Untuk saat ini kita harus bersabar menantikan datangnya kerajaan sorga di muka bumi ini. 

Sekarang tiba saatnya kita mendefinisikan istilah komunitas kerajaan sesuai dengan judul yang kita pilih. Komunitas kerajaan yang kita maksud adalah sekumpulan orang yang telah lahir baru yang sedang mencari dan belajar mengenai kerajaan sorga serta sedang dalam proses disiplin Roh Kudus agar mendapatkan kerajaan sorga. Termasuk kedalam komunitas ini, orang-orang yang telah mendapat kerajaan sorga tetapi terus belajar dan disempurnakan. Komunitas kerajaan bukanlah kelompok mayoritas, karena pada kenyataannya tidak banyak orang Kristen (yang telah lahir baru) yang mau mengalami kesengsaraan demi memperoleh kerajaan sorga. Kebanyakan orang Kristen cukup puas dengan berkat-berkat jasmani serta hidup aman selama mengikuti Tuhan di dunia ini. Namun kondisi seperti ini menggenapi firman Tuhan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Tetapi ada peneguhan dan penghiburan Tuhan bagi kelompok minoritas ini seperti tertulis dalam Lukas 12:32, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu”.

Bagaimana hubungan komunitas kerajaan dengan simbol perempuan yang diuraikan dalam Wahyu pasal 12 ? Perempuan didalam Wahyu pasal 12 sudah tentu menggambarkan gereja. Disini kita tidak bermaksud menguraikan Wahyu pasal 12 dengan terperinci. Tetapi yang ingin kita perhatikan adalah bahwa perempuan ini melahirkan putra yang memiliki otoritas memerintah karena ia dibawa ke takhta Allah. Tetapi perempuan itu sendiri lari ke padang gurun. Disini padang gurun berbicara mengenai proses disiplin. Disepanjang Alkitab kita temui hamba-hamba Tuhan dipersiapkan dan didisiplin di padang gurun. Bila kita kembali melihat definisi komunitas kerajaan yang telah kita uraikan diatas, maka sebenarnya perempuan di kitab Wahyu 12 ADALAH KOMUNITAS KERAJAAN. Komunitas kerajaan ini pada saatnya nanti (pada waktu kedatangan Tuhan) akan melahirkan putra-putra Bapa yang akan memerintah bersama Kristus. Tetapi sebagaimana perempuan di Wahyu 12 ini mengalami proses disiplin selanjutnya, demikian juga didalam komunitas kerajaan dimana sebagiannya masih perlu mengalami masa disiplin dan sebagian lagi siap untuk dimanifestasikan sebagai putra-putra yang memerintah.

Komunitas kerajaan ini dimulai dengan 120 orang yang mengalami pencurahan Roh Kudus di Kisah para rasul pasal 2. Anggota komunitas kerajaan ini dalah Kisah para rasul sering disebut murid-murid atau murid Tuhan. Mereka disebut murid karena mereka sedang tekun belajar dan mencari kerajaan sorga. Beberapa diantaranya gagal memperoleh kerajaan sorga seperti Ananias dan Safira, tetapi yang lainnya berhasil didalam pertandingan iman serta “… dikaruniakan hak penuh untuk memasuki kerajaan kekal, yaitu kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (II Petrus 1:11).

Sebelum menguraikan karakteristik/ciri-ciri dari komunitas kerajaan, baiklah kita menarik kesimpulan mengenai komunitas kerajaan dari uraian kita sejauh ini. Komunitas kerajaan bukanlah denominasi, ia bukanlah perempuan di Wahyu 17 tetapi perempuan di Wahyu 12. Komunitas kerajaan adalah sekelompok murid Tuhan yang mencari, belajar dan membayar harga untuk memperoleh kerajaan sorga, sementara mayoritas anak Tuhan puas dengan rutinitas didalam denominasi-denominasi. Komunitas kerajaan akan melahirkan Putra-putra Bapa yang memerintah bumi ini, walaupun sebagian dari padanya perlu mengalami proses disiplin lebih lanjut. Komunitas kerajaan dimukai dengan 120 orang seperti yang diuraikan dalam Kisah para rasul pasal 2, dimana selanjutnya pada setiap zaman Tuhan memiliki komunitas kerajaanNya serta komunitas kerajaan akhir zaman yang secara khusus dilambangkan KHUSUSNYA KOMUNITAS KERAJAAN AKHIR ZAMAN oleh perempuan di Wahyu 12.

KARAKTERISTIK KOMUNITAS KERAJAAN

Untuk dapat memahami komunitas kerajaan, kita perlu mempelajari kitab Kisah Para Rasul dengan baik karena didalam kitab inilah kita memperoleh uraian yang lengkap dan terperinci mengenai komunitas ini seturut yang Tuhan kehendaki. Dalam mempelajari komunitas kerajaan ini, kita hanya memperhatikan ciri-ciri utama yang membuatnya sangat berbeda dari komunitas-komunitas lain.

Kepemimpinannya

Hal yang paling menyolok yang dapat kita perhatikan mengenai komunitas ini dalam Kisah para rasul adalah kepemimpinan Roh Kudus. Beberapa kali tercatat bahwa Roh berkata (8;29;10:19;13:2), Roh mengutus malaikat Allah (10:3), Roh Kudus mencegah (16:6), Roh Yesus tidak mengizinkan (16:7), Roh Kudus membisikkan (21:4), dan masih banyak lagi perisitiwa-peristiwa dimana kepemimpinan terjadi oleh campur tangan ilahi secara langsung tanpa menggunakan kepemimpinan manusia. Ini bukan berarti tidak ada para pemimpin didalam komunitas kerajaan, tetapi posisi Yesus sebagai pemimpin dalam komunitas ini benar-benar dipraktekkan. Wahyu 14:4 benar-benar digenapi dalam komunitas ini yaitu, “… mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi.” Demikian juga yang tercatat dalam Matius 23:10, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu yaitu Mesias.”

Mengapa posisi Yesus sebagai pemimpin dalam komunitas kerajaan ini dapat benar-benar ditegakkan? Jawabnya karena tidak ada satu orangpun pemimpin yang “dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikat mereka” (Kis 20:30). Tidak ada seorangpun dari pemimpin-pemimpin yang ada, meninggikan diri dan mencari pengikut. Ketika Petrus berkhotbah dan 3000 orang bertobat, ia tidak membangun suatu organisasi, membuat target-target, perencanaan serta sistem kontrol, apalagi momotivasi atau mengajarkan jemaat memberi perpuluhan. Hampir semua hal-hal yang dilakukan oleh para pemimpin denominasi saat ini, tidak dilakukan oleh Petrus. Seandainya Petrus melakukannya, dengan mendadak ia akan menjadi orang kaya, mempunyai jabatan puncak organisasi serta memiliki otoritas mengatur umat Tuhan. Sebaliknya apa yang dilakukan dan diajarkannya adalah, “Gembalakanlah kawanan domba Allah … Jangan karena mau mencari keuntungan … Jangan kamu berbuat seolah-olah KAMU MAU MEMERINTAH … hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (I Petrus 5:2-3).

Jadi karena tidak ada seorangpun pemimpin yang bangkit serta membangun organisasi atau kerajaan sendiri, melainkan setiap pemimpin berlaku sebagai sesama saudara (Mat 23:8) serta menjadi teladan maka Tuhan Yesus dapat memimpin komunitas kerajaan ini dengan leluasa tanpa dirintangi oleh adanya struktur organisasi. Mungkin ada yang membantah bahwa Kisah para rasul pasal 6 yang berbicara mengenai dipilihnya tujuh orang untuk melayani orang miskin, menegaskan perlunya suatu organisasi didalam gereja. Tetapi sebenarnya Kisah para rasul pasal 6 sama sekali tidak berbicara tentang organisasi melainkan sekedar pembagian tugas didalam suatu komunitas. Didalam Kisah para rasul 6 terlihat jelas bahwa sebagian anggota komunitas memusatkan perhatian dalam doa dan pelayanan Firman (ay.4), sementara anggota lainnya melayani meja (ay.2). Semuanya ini hanyalah berbicara mengenai fungsi dan bukan jabatan didalam suatu organisasi. Sama seperti kaki dan tangan mempunyai fungsinya sendiri-sendiri didalam suatu organisme, demikian juga didalam komunitas kerajaan masing-masing mempunyai fungsinya tersendiri karena KOMUNITAS KERAJAAN ALLAH ORGANISME DAN BUKAN ORGANISASI. Lanjutan ……..

Ada baiknya kita mengutip uraian Lawrence O.Richards tentang perbedaan antara kepemimpinan tubuh (organisme) dengan kepemimpinan organisasi. Richards membedakan dengan tajam antara para pemimpin diantara jemaat dan para pemimpin atas jemaat. Pemimpin diantara jemaat adalah kepemimpinan organisme, sedangkan pemimpin atas jemaat adalah kepemimpinan organisasi. Berikut ini uraiannya.

Kepemimpinan Organisme (Komunitas Kerajaan)

à Pemimpin diantara Jemaat

Kepemimpinan Organisasi (Denominasi-denominasi) à Pemimpin atas Jemaat

Tujuan ditetapkan Alkitab à untuk menopang dan memberi HIDUP, memperlengkapi, mengizinkan Kristus merubah kehidupan dan memimpin umat kepada pelayanan.

Membangun persekutuan diantara umat Tuhan à mengarahkan jemaat kepada kasih, persekutuan yang saling mendukung, menggunakan kelompok kecil untuk menolong jemaat saling membangun.

Membangun pelayanan antar anggota jemaat à meyakinkan orang percaya bahwa Roh Kudus mengubah kehidupan mereka dan memberikan mereka kuasa untuk saling melayani, memperlengkapi mereka untuk saling memenuhi kebutuhan mereka.

Mengembangkan gaya hidup penyembahan dan doa à mendorong doa dan penyembahan dalam kelompok, menyediakan kesempatan-kesempatan yang intim dan tidak mengancam dimana jemaat dapat belajar bersama untuk mengungkapkan bahwa mereka mengasihi Allah dan membutuhkanNya.

Mendorong kesetiaan à membangun kesetiaan kelompok kepada Yesus Kristus, kepala gereja dan pemimpin fungsional dari jemaat lokal, bukan mendorong kesetiaan kepada gembala, pengajar atau suatu badan penatua.

Memberi suatu teladan à membangun persahabatan yang akrab dan terbuka dengan jemaat, mengijinkan mereka melihat kekuatan dan kelemahan para pemimpin.

     

Menjalankan otoritas Alkitab à memimpin dari kelemahan, selalu membangun jemaat dan menggunakan Firman Tuhan untuk meneguhkan, menasehati dan mengajar, tergantung sepenuhnya pada Kristus untuk bekerja dengan luar biasa dalam kehidupan jemaat.

Mengkomunikasikan keyakinan à menampilkan keyakinan yang teguh atas jemaat, dengan jalan menunjukkan iman bahwa Kristus bekerja dalam kehidupan jemaat bahkan sekalipun nampaknya tidak.

Menyediakan kebebasan à menolong jemaat memandang Kristus untuk kepemimpinan dan pengambilan keputusan-keputusan mereka; menolak membuat rencana dan mengorganisasikan pelayanan-pelayanan umat dalam gereja lokal; membatasi pengaruh untuk mengajar, memberi nasihat dan mendorong; tidak menjalankan kontrol organisasi.

Tujuan ditetapkan para pemimpin à untuk menyelesaikan tugas-tugas, untuk menyediakan pelayanan-pelayanan dan program-program (pemuda, musik, penginjilan, pemuridan, pelayanan mimbar, misi dan lain-lain).

Perencanaan à menetapkan tujuan, anggaran, merencanakan keperluan-keperluan staf dan fasilitas, menetapkan pembagian-pembagian dan memutuskan keperluan peralatan.

Pengorganisasian à merencanakan struktur organisasi untuk menunjukkan garis-garis otoritas dan tanggung jawab, menulis uraian tugas, mengembangkan sistem dan prosedur untuk mengontrol organisasi.

Penyusunan personalia (staffing) à memilih orang-orang atas dasar bakat/kecerdasan, kemampuan teknik, pendidikan dan profesionalisme; menyisihkan mereka yang mempunyai prestasi rendah.

Pengontrolan à mengikuti rantai komando secara hati-hati, menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang membutuhkan tiap orang dalam mata rantai agar berfungsi dalam lingkup otoritas dan tanggung jawabnya. Memiliki peninjauan prestasi secara teratur dan peninjauan upah. Memerlukan laporan kemajuan secara berkala, memberi peringatan-peringatan dan memberi upah sebagai motivasi.

Pengarahan à membuat keputusan-keputusan dan mengatur keputusan-keputusan orang lain, memelihara sistem komunikasi dan memimpin orang lain dalam organisasi.

 

Tetapi didalam Alkitab berulang-kali ditegaskan bahwa gereja adalah organisme. Kristus sebagai kepala dan umat pilihanNya sebagai anggota Tubuh. Apabila seorang pemimpin membuat organisasi sebagai alat untuk mendukung perkembangan gereja, maka sebenarnya ia telah memasukkan unsur pemerintahan manusia kedalam gereja. Sekalipun hal ini dilakukan atas dasar untuk mendukung perkembangan gereja, tanpa sadar ia telah menggenapi nubuat Yohanes mengenai denominasi yaitu, “… aku melihat seorang perempuan DUDUK DIATAS SEEKOR BINATANG …” (Wahyu 17:3). Disini kita melihat gereja (perempuan) “duduk diatas” sistem pemerintahan manusia (binatang), artinya gereja ditopang atau dibantu oleh sistem pemerintahan manusia. Memang “gereja” ini menjadi besar serta memiliki kemuliaan dan kemewahan (Wahyu 18:7), tetapi ada saat dimana penghakiman Allah berlaku atasnya.

Sebaliknya kita melihat kepemimpinan didalam komunitas kerajaan, yang dilambangkan oleh sebuah mahkota dari dua belas bintang diatas kepala perempuan di kitab Wahyu pasal 12, sebagai kepemimpinan organisme. Mengapa kedua belas bintang diatas kepala perempuan ini kita sebut kepemimpinan organisme ? Pertama, kita melihat bahwa angka 12 didalam Alkitab menunjuk pada pemerintahan ilahui. Kedua, kita melihat bahwa kedua belas bintang tersebut memiliki ukuran yang sama, tidak ada satu bintang yang lebih besar dari bintang yang lainnya. Artinya kedua belas bintang itu disebut kepemimpinan organisme KARENA TIDAK ADA SARU ORANGPUN YANG BERKUASA, DIDALAM SISTEM PEMERINTAHAN INI. Mahkota yang melambangkan otoritas didalam kepemimpinan ini, tidak dimiliki oleh satupun dari kedua belas bintang tersebut. Otoritas (mahkota) didalam kepemimpinan ini muncul karena kedua belas bintang tersebut bersatu. Apabila kedua belas bintang ini terpisah dan berdiri sendiri-sendiri, maka tidak ada mahkota atau otoritas ilahi didalam kepemimpinan ini. Hal ini berarti bahwa didalam kepemimpinan organisme, otoritas ilahi tetap berada ditangan Tuhan. Semua ini berbeda dengan kepemimpinan organisasi yang merupakan sistem pemerintahan manusia. Didalam organisasi TIDAK MUNGKIN ADA DUA ORANG MENEMPATI JABATAN YANG SAMA SERTA MEMILIKI OTORITAS YANG SAMA. Sekalipun saat ini banyak orang berbicara tentang “Tim Kepenatuaan” sebagai sistem kepemimpinan gereja, namun pada prakteknya TETAP HARUS ADA SATU ORANG YANG BERKUASA didalam tim tersebut. Mengapa demikian ? Inilah suatu misteri yang memerlukan pewahyuan untuk menyingkapkannya. Baiklah kita berbicara sedikit lagi mengenai otoritas ini.

Ada perbedaan yang tajam antara otoritas manusia (otoritas didalam organisasi) dan otoritas Tuhan (otoritas didalam organisme). Banyak pemimpin Kristen menganggap remeh hal ini dan tidak menyadari bahwa dengan mengorganisasikan gereja, mereka telah menghancurkan otoritas Tuhan atas umatNya. Posisi dan otoritas Tuhan Yesus atas umatNya DITUMBANGKAN DAN DIGANTI DENGAN OTORITAS PEMIMPIN ORGANISASI TERSEBUT. Mungkin banyak orang berpikir bahwa otoritas Tuhan dapat mengalir melalui struktur organisasi. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi, mengapa ? Kita lihat kembali kedua belas bintang yang membentuk mahkota (otoritas) didalam perempuan Wahyu 12 tersebut. Apabila salah satu bintang tersebut tiba-tiba ingin menjadi lebih besar dari yang lain serta bangkit menjadi pemimpin, maka otomatis mahkota (otoritas ilahi) tersebut hancur. Inilah tepatnya apa yang terjadi dengan adanya organisasi. ORGANISASI ADA APABILA SATU ORANG PEMIMPIN BANGKIT MENGATASI YANG LAINNYA. Otoritas Tuhan tidak dapat digabung atau digandengkan dengan otoritas manusia. Didalam suatu komunitas hanya ada dua kemungkinan, yaitu otoritas Tuhan dan otoritas manusia yang berlaku.

Hal ini bukan berarti bahwa berkat Tuhan dan urapanNya tidak dapat mengalir melalui struktur organisasi. Organisasi gereja saat ini mengalami berkat dan urapanNya. Mengapa demikian ? Karena Tuhan mengasihi umatNya. Ia tetap memberkati dan mengurapi umatNya, bahkan mungkin berkelimpahan. Tetapi jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa otoritasNya juga mengalir bersama berkat-berkatNya. Kita melihat contoh Musa yang menggunakan tongkat Allah (melambangkan otoritasNya) secara salah, namun air (berkat Allah) tetap mengalir keluar dari bukit batu tersebut (Bilangan 20:2-12). Akibat penyalahgunaan tongkat Allah ini, Musa tidak dapat masuk ke tanah perjanjian namun air berkatNya tetap mengalir. Apabila saudara hanya menginginkan berkat dan urapanNya saja didalam mengikut Tuhan Yesus, silahkan memilih salah satu dari organisasi gereja yang begitu banyak itu. Bahkan mungkin saudara tidak perlu susah-susah mencarinya, khususnya apabila saudara termasuk “orang yang berpotensi”. Tetapi saya mau menyampaikan sesuatu dengan terus terang disini. Jika seseorang menolak otoritas Tuhan dalam hidupnya saat ini, entah disadari atau tidak, maka orang tersebut tidak akan menjalankan otoritas Tuhan di muka bumi ini dalam zaman-zaman yang akan datang. Memang otoritas Tuhan belum sepenuhnya ditegakkan di muka bumi ini. KerajaanNya belum sepenuhnya termanifestasi di muka bumi ini. Tetapi ada saatnya dimana Tuhan Yesus tampil sebagai RAJA DIATAS SEGALA RAJA untuk memerintah dan memulihkan bumi ini. Pada waktu itu, orang-orang yang telah menerima otoritas Tuhan sewaktu hidupnya, akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus untuk memulihkan bumi ini.

Mari kita perhatikan sedikit lagi mengenai orang Kristen yang menolak otoritas Tuhan khususnya para pemimpin. Matius 7:21-23 menegaskan, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan ! akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang disorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi namaMu dan mengusir setan demi namaMu dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga ? Pada waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan.” Disini kita melihat sekelompok orang yang berseru Tuhan, Tuhan, namun tidak diakui dan tidak diterima oleh Tuhan. Mereka berseru Tuhan, yang dalam bahasa Yunani Kurios artinya Penguasa Tunggal, namun mereka tidak melakukan kehendak Tuhan (ay.21). Mereka tidak menghormati otoritas Penguasa Tunggal, dengan cara melakukan kejahatan (Lawlessness = ketiadaan hokum artinya melanggar aturan main didalam hokum kerajaan sorga – ay.23). orang-orang ini ditolak masuk kerajaan sorga bukan karena melakukan percabulan atau perampokan, tetapi karena tidak menghormati aturan main atau hokum didalam kerajaan sorga. Malahan dari perbuatan-perbuatan mereka, kita dapat menduga bahwa mayoritas dari mereka adalah pemimpin-pemimpin, karena perbuatan mereka adalah bernubuat, mengusir setan serta mengadakan banyak mujizat demi nama Tuhan. Disini juga kita melihat bahwa Tuhan tidak menyangkal bahwa perbuatan-perbuatan mereka dilakukan demi nama Tuhan atau dengan kuasa Tuhan. Yang menjadi persoalan adalah mereka melanggar hokum kerajaan sorga yang mana berkaitan dengan masalah OTORITAS DARI PENGUASA TUNGGAL (KURIOS). Mereka, yang pada umumnya para pemimpin, TELAH MENOLAK OTORITAS KURIOS (TUHAN). Dan hal ini berakibat sangat fatal yaitu MEREKA DITOLAK MASUK KERAJAAN SORGA.

Peristiwa penolakan Tuhan Yesus terhadap para pemimpin, memang tidak terjadi saat ini, karena pada ayat.23 disebutkan, “Pada waktu itulah … “ atau pada ayat 22, “Pada hari terakhir …”. Artinya penolakan Tuhan Yesus terhadap para pemimpin terjadi pada saat kedatanganNya yaitu saat Putra-putra Bapa menerima otoritas Ilahi untuk memulihkan bumi ini. Saya percaya bahwa orang-orang yang membangun kerajaannya sendiri, orang-orang yang membangun organisasi di dalam gereja serta menegakkan otoritasnya sendiri, orang-orang yang menumbangkan otoritas Tuhan atas umat Allah, orang-orang inilah yang dimaksud dalam Matius 7:21-23 yang telah kita bahas diatas.

Jadi kesimpulannya, karakteristik atau cirri-ciri utama dari komunitas kerajaan adalah model kepemimpinannya. Model kepemimpinannya adalah sedemikian sehingga Tuhan Yesus dapat memimpin dan memerintah SECARA LANGSUNG ATAS SETIAP ANGGOTA KOMUNITAS. Posisi dan otoritas Tuhan Yesus sebagai pemimpin dan gembala sidang benar-benar dijalankan.

Kehidupan yang Spontan

Ciri atau karakteristik lain yang membuat komunitas kerajaan ini berbeda dengan komunitas-komunitas lainnya adalah kehidupan yang spontan. Istilah spontan yang dimaksud disini ialah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, alamiah, mengalir dan tidak dipaksa-paksa. Sebagai contoh kita lihat mengenai burung. Burung menjalani aktivitas terbang dan melayang-layang di udara secara spontan tanpa dipaksa-paksa. Mengapa demikian ? Karena burung memang memiliki jenis hidup yang dapat membuatnya terbang. Ayam tidak dapat terbang, walaupun kadang-kadang kita melihat ayam berusaha menggunakan sayapnya  untuk terbang. Tetapi semuanya itu dilakukannya dengan memaksakan diri dan terseret-seret, karena memang jenis hidup yang dimiliki ayam tidak memungkinkan untuk terbang. Demikian juga dengan ikan yang dapat hidup dengan spontan didalam air.

Didalam kehidupan komunitas kerajaan, segala sesuatunya berjalan dengan spontan. Dalam kitab Kisah para rasul kita melihat bagaimana komunitas ini dengan spontan menjalankan pertemuan-pertemuannya. Pertemuan pertama komunitas ini terjadi ketika mereka sedang menantikan janji Bapa sesuai perintah Kristus (Kis 1:12-26). Selama beberapa hari mereka bertemu (ada 120 orang) dan kita tidak melihat adanya “acara kebaktian” atau liturgy atau tata cara tertentu selama pertemuan mereka. Tetapi tiba-tiba, dengan spontan berdirilah Petrus dan terjadilah pemilihan Matias yang melengkapi kesebelas rasul yang ada. Juga ketika terjadi pencurahan Roh Kudus, tidak ada persiapan untuk membuat “KKR”, namun dengan spontan Petrus berkhotbah dan hampir 3000 orang bertobat.

Pertemuan selanjutnya juga terjadi dengan spontan. Setelah Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak lahirnya, tiba-tiba seluruh orang banyak datang mengerumuni mereka di serambi Salomo (Kis 3:11). Dengan spontan Petrus berkhotbah dan banyak orang bertobat sehingga komunitas ini menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki. Disinipun kita tidak melihat adanya persiapan untuk kebaktian atau “KKR”. Petrus dan Yohanes tidak bermaksud mengadakan kebaktian penginjilan. Tetapi Tuhan sendiri yang mengatur sedemikian sehingga terjadi kebaktian penginjilan yang menghasilkan petobat-petobat baru.

Kemudian dalam Kisah para rasul 4:23-31, kita melihat adanya pertemuan doa jemaat, pertemuan inipun terjadi dengan spontan tanpa direncanakan lebih dahulu. Karena setelah Petrus dan Yohanes dilepaskan dari Mahkamah Agama, mereka mengunjungi dan menceritakan kepada teman-teman mereka bagaimana mereka mengalami tekanan dari imam-imam dan tua-tua. Maka dengan spontan mereka berseru dalam doa kepada Allah dan terjadilah mujizat.

Kita lihat pertamuan demi pertemuan terjadi tanpa diatur-atur atau direncanakan terlebih dahulu didalam komunitas kerajaan. Pertemuan selanjutnya yang akan kita perhatikan adalah pertemuan dimana Ananias dan Safira mengalami disiplin Allah sehingga mati. Mungkin ada yang meragukan apakah ini suatu jenis pertemuan. Jawabnya ya ! Karena Kis 5:11 menyatakan, “maka sangat ketakutanlah  seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu” Artinya jemaat bukanlah kelompok orang yang mendengar kejadian itu karena memang mereka hadir ditempat kejadian atau setidaknya sebagian dari jemaat. Jenis pertemuan “disiplin ilahi” seperti ini memang jarang kita temui didalam pertemuan-pertemuan organisasi gereja. Kalau mau “diada-adakan”, mungkin jenis pertemuan ini mirip dengan “kebaktian penguburan” didalam denominasi-denominasi. Tetapi tetap ada bedanya. Kalau upacara penguburang didalam denominasi-denominasi telah diatur dan direncanakan dengan sebaik-baiknya, maka pertemuan “disiplin ilahi” didalam komunitas kerajaan terjadi tanpa campur tangan manusia.

Pertemuan-pertemuan yang dijalankan Paulus juga terjadi dengan spontan sesuai pimpinan Tuhan. Kadangkala Paulus mengadakan pertemuan setiap hari selama dua tahun penuh (Kis 19:9-10). Atau kadang-kadang juga ia berkhotbah semalaman (Kis 20:11). Semua pertemuannya dilakukan sesuai pimpinan Tuhan. Mungkin ada yang bertanya bagaimana dengan peraturan dalam jemaat seperti tertulis dalam I Korintus 14:26-40. Sebenarnya peraturan ini dibuat sedemikian sehingga Tuhan melalui RohNya dapat langsung memimpin pertemuan tersebut. Perhatikan ayat 26 yang menyatakan supaya tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu. Perhatikan juga ayat 30 yang menegaskan bahwa jika ada yang seorang yang tiba-tiba mendapat penyataan, maka yang pertama berbicara harus berdiam diri. Semuanya ini diatur sedemikian supaya otoritas Tuhan yang mengatur pertemuan jemaat, dapat sepenuhnya ditegakkan.

Pertemuan-pertemuan yang telah kita uraikan diatas, sebenarnya adalah sesuatu yang wajar bagi suatu organisme. Bagi suatu organisme, hukum yang bekerja adalah hukum hidup (the law of life). Hidup itu tidak bisa diatur-atur atau dipaksa-paksakan. Hidup itu spontan. Suatu organisme akan bergerak, bertumbuh, bernafas secara spontan. Berbeda halnya dengan organisasi. Organisasi itu bukanlah sesuatu yang hidup. Hukum organisasi bukanlah hukum hidup. Hukum organisasi itu dibuat dan diciptakan oleh para pemimpin didalam organisasi tersebut, untuk mencapai maksud-maksud dan tujuan mereka. Setiap organisasi mempunyai hukumnya atau “atmosfirnya” tersendiri, dan “atmosfir” suatu organisasi ditentukan oleh para pemimpinnya.

Kita harus membedakan dengan tajam antara pertemuan organisme dan pertemuan organisasi. Pertemuan organisme terjadi dengan spontan, sementara pertemuan organisasi di programkan secara rutin bahkan dipaksakan. Pertemuan organisme terjadi untuk membina dan mengembangkan hidup, sementara pertemuan organisasi terjadi untuk pengembangan organisasi tersebut. Pertemuan organisme diatur oleh hidup organisme tersebut, sementara pertemuan organisasi diatur oleh pemimpin-pemimpin organisasi tersebut. Kalau kita mengambil istilah roh (rohani) dan jiwa (manusiawi) maka pertemuan organisme adalah pertemuan roh, sementara pertemuan organisasi adalah pertemuan jiwa. Perbedaan ini akan terus berlanjut kalau kita memperbandingkan pohon kehidupan dan pohon pengetahuan di kitab Kejadian. Tetapi untuk saat ini cukuplah dipahami bahwa perbedaan keduanya sangat tajam seperti perbedaan antara alam sorga dan alam maut.

Sekarang kita masuk kepada persoalan mengenai pertemuan-pertemuan denominasi saat ini. Mereka yang didalam organisasi gereja mengklain bahwa pertemuan mereka adalah pertemuan gereja. Tetapi kalau kita berpikiran jernih, maka kita tahu bahwa PERTEMUAN DENOMINASI ADALAH CAMPURAN ANTARA PERTEMUAN ORGANISME DAN PERTEMUAN ORGANISASI. Oleh karena itu pertemuan-pertemuan denominasi gereja, selain membangun hidup Kristus juga membangun hidup para pemimpin denominasi tersebut. Bahwa sesungguhnya hidup Kristus terhimpit diantara tumpukan-tumpukan program, rencana-rencana, aktivitas-aktivitas rutin, serta pertikaian diantara para pemimpin. Sudah waktunya kita melihat apa itu denominasi. Denominasi adalah organisme yang diorganisasikan!

Banyak anak Tuhan, karena tidak memahami apa itu denominasi, menganggap bahwa seseorang akan bertumbuh dengan sehat apabila menghadiri pertemuan-pertemuan semacam itu. Tetapi coba saudara renungkan bagaimana seseorang dapat bertumbuh sehat apabila ia memakan makanan campuran antara yang bergizi dan yang berpenyakit. Saya yakin saudara bahwa seseorang dapat saja menghadiri pertemuan-pertemuan denominasi selama 20-30 tahun dan dengan setia “memanaskan” bangku-bangku denominasi, namun tidak mendapat pewahyuan yang baru dan segar. Sebenarnya banyak yang dapat kita bicarakan mengenai pertemuan-pertemuan denominasi, tetapi saya mau mengakhiri pembicaraan mengenai pokok ini dengan menyatakan bahwa berbahagialah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari perbudakan pertemuan-pertemuan tersebut.

Kehidupan yang spontan daro komunitas kerajaan juga terlihat dalam hal persembahan. Kita lihat dalam Kisah para rasul bagaimana anggota komunitas ini dengan spontan menjual ladangnya atau harta miliknya untuk dibagi-bagikan. Ini bukan berarti anggota komunitas kerajaan tidak boleh memiliki harta di dunia ini. Karena Petrus berkata kepada Ananias dalam Kis 5:4 sebagai berikut : “Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu?”. Tetapi kita lihat disini bahwa anggota komunitas kerajaan memberi segara sesuatunya semata-mata karena dorongan hidup Kristus itu.

Tidak ada pengajaran perpuluhan didalam komunitas kerajaan. Para rasul tidak pernah mengajarkan perpuluhan kepada komunitas kerajaan. Yesus juga tidak pernah mengajarkan perpuluhan kepada murid-muridNya. Hanya satu kali Yesus menyinggung soal perpuluhan, itupun dalam konteks tegoranNya terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat (Mat 23:23). Orang yang berpikiran sehat akan tahu apa maksud pengajaran perpuluhan seperti yang diberitakan oleh para pemimpin organisasi gereja. Kita tidak perlu berkomentar lebih jauh, sangat kurang menyenangkan didengar telinga.

Masih banyak lagi kehidupan yang spontan dari komunitas kerajaan ini, misalnya dalam pertumbuhannya yang alamiah, dalam pelayanannya, dalam persekutuan (koinonia) dan sebagainya. Tetapi saat ini kita tidak membahasnya. Yang penting kita pahami bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan komunitas kerajaan, bersifat spontan, mengalir dan tidak dipaksakan.

PENYEBAB KEJATUHAN GEREJA

Pada uraian yang lalu, kita telah melihat bahwa gereja adalah kumpulan orang-orang yang telah lahir baru di suatu lokal. Gereja dapat dilihat oleh mata jasmani, karena gereja adalah roh, jiwa dan tubuh orang percaya. Gereja Kristus tampil di muka bumi ini pada saat pencurahan Roh Kudus dimana ada 120 orang percaya berkumpul. Pada saat itu konsep mengenai gereja sangat mudah dipahami. Gereja adalah ke-120 orang tersebut. Anggota-anggota gereja di kitab Kisah Para Rasul sering disebut murid. Murid adalah seorang yang sedang belajar sesuatu. Sesuatu yang sedang dipelajari oleh murid-murid di Kisah Para Rasul adalah kerajaan sorga. Mengapa demikian ? Karena diseluruh Perjanjian Baru, pengajaran pokoknya adalah kerajaan sorga. Banyak orang menganggap pengajaran pokok di perjanjian Baru adalah gereja. Sebenarnya tidak demikian. Seringnya kata kerajaan sorga atau kerajaan Allah muncul di Perjanjian Baru membuktikan bahwa tekanan utama pengajaran Perjanjian Baru adalah kerajaan sorga. Kata Kerajaan Sorga muncul sebanyak 160 kali, sedangkan kata gereja muncul + 113 kali. Inti pengajaran Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah kerajaan sorga. Inti pengajaran para rasul juga adalah kerajaan sorga. Jadi tema pokok Perjanjian Baru adalah kerajaan sorga. Dan di kitab Kisah Para Rasul kita melihat bahwa gereja bertekun dalam pengajaran para rasul. Gereja dengan tekun mempelajari kerajaan sorga. Beberapa anggota gereja gagal memperoleh kerajaan sorga seperti Ananias dan Safira, tetapi yang lainnya berhasil mendapatkan kerajaan sorga dalam iman. Walaupun beberapa anggotanya gagal, tetapi gereja di Kisah Para Rasul belumlah jatuh kedalam denominasi-denominasi. Sebelum kejatuhannya, gereja di Kisah Para Rasul kita sebut juga komunitas kerajaan sesuai dengan definisi yang telah kita buat sebelumnya. Jadi di kitab Kisah Para Rasul, gereja adalah komunitas kerajaan.

Tetapi kita tahu bahwa dalam perjalanan selanjutnya gereja mengalami kejatuhannya. Pada saat ini, di abad ke 21, gereja telah menjadi kurang lebih 5000 denominasi-denominasi besar, belum termasuk cabang-cabang dan aliran-aliran kecil lainnya. Tetapi Tuhan tetap memiliki orang-orang pilihanNya yang terus tekun mempelajari kerajaan sorga dan yang tetap diam didalamnya. Kelompok orang-orang inilah yang kita sebut komunitas kerajaan. Saat ini kita tidak dapat lagi melihat gereja dengan mata jasmani. Gereja telah jatuh dan hancur menjadi ribuan denominasi. Apakah yang menyebabkan kejatuhan gereja ? Pokok inilah yang akan kita uraikan selanjutnya.

Sebenarnya pewahyuan mengenai kejatuhan gereja telah diberikan Tuhan Yesus kepada Rasul Yohanes. Kurang lebih tahun 90, ketika Paulus dan kedua belas rasul telah mati, Tuhan Yesus menampakkan diriNya kepada Yohanes untuk menunjukkan “… apa yang harus segera terjadi” (Wahyu 1:1). Memang apa yang harus segera terjadi adalah pewahyuan diri Tuhan Yesus sendiri, sesuai dengan sifat dasar kitab Wahyu. Tetapi karena gereja adalah Tubuh Kristus, maka pewahyuan diri Tuhan Yesus berarti pewahyuan gereja juga. Dan disamping Alkitab, gereja dilambangkan dengan simbol perempuan.

Didalam kitab Wahyu ada dua perempuan ditampilkan yang perlu kita perhatikan yaitu perempuan di Wahyu pasal 12 dan perempuan di Wahyu pasal 17. Keduanya adalah perempuan, yang berarti bahwa keduanya menjelaskan mengenai gereja. Tetapi kedua perempuan ini sangat berbeda sekali sifat dasarnya. Perempuan di Wahyu 12 adalah perawan yang sedang mengandung (seperti perawan Maria mengandung bayi Yesus), tetapi perempuian di Wahyu pasal 17 adalah pelacur. Demikian juga bahwa perempuan di Wahyu pasal 12 diselubungi matahari dengan bulan dibawah kakinya serta 12 bintang di kepalanya, sementara itu perempuan di Wahyu pasal 17 duduk diatas seekor binatang. Takdir kedua perempuan ini juga sangat berbeda. Yang satu melahirkan putra-putra Bapa yang akan memerintah, sedangkan yang lainnya mengalami penghakiman Allah.

Seandainya gereja tidak jatuh, tentu tidak ada dua perempuan yang sangat berbeda sifat dasarnya ini didalam kita Wahyu. Kita tidak akan membahas perempuan di Wahyu 12 ini, tetapi kita akan memperhatikan sedikit perempuan Wahyu 17. Karena pokok bahasan kita adalah  penyebab kejatuhan gereja, maka kita tidak akan menguraikan semua ciri-ciri perempuan wahyu 17 tetapi hanya kondisinya yang duduk diatas seekor binatang. Binatang di kitab Wahyu melambangkan pemerintahan manusia. Masuknya pemerintahan manusia ke dalam gereja menjadi sebab utama kejatuhannya.

Kejatuhan gereja bukan karena ada beberapa anggotanya yang gagal mengikut Tuhan, atau hilangnya karunia-karunia Roh Kudus atau penyimpangan doktrin-doktrin tertentu didalam gereja. Bukan itu yang menyebabkan kejatuhan gereja. Tetapi ketika satu atau sekelompok pemimpin mengambil otoritas Tuhan Yesus atas gerejaNya serta mengambil alih kendali atas murid-murid Tuhan, pada waktu itulah gereja jatuh. Didalam Kisah Para Rasul 20:29-30, Paulus sudah memperingati akan adanya penatua (pemimpin) yang akan mengambil alih kendali atas murid-murid Tuhan. Karena ini memang nubuat, maka pasti akan digenapi. Dan kita tahu bahwa ini telah digenapi.

Pengambil-alihan kekuasaan atau otoritas Tuhan Yesus atas murid-murid Tuhan oleh sekelompok pemimpin sangat dibenci Tuhan. Pengambil-alihan kekuasaan Tuhan Yesus ini diuraikan didalam Wahyu 2:6 dengan sebutan “perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus”. Nikolaus artinya menaklukkan kaum awam. Kaum awam disini adalah murid-murid Tuhan yang sedang belajar tentang kerajaan sorga. Yang menaklukkannya adalah para pemimpin. Akibatnya sangat fatal! Bukan saja para pemimpin itu tidak masuk kerajaan sorga, tetapi mereka juga menghalang-halangi  murid-murid Tuhan untuk masuk kedalamnya. Demikianlah genap perkataan Tuhan Yesus, “… kamu menutup pintu-pintu kerajaan sorga didepan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk” (Markus 23:13). Itulah sebabnya Tuhan sangat benci dengan perbuatan Nikolaus ini.

Didalam Injil Yohanes pasal 10, Yesus pernah menguraikan mengenai gembala yang baik dan juga seorang pencuri. Saat ini kadang-kadang kita mendengar seorang pemimpin denominasi merasa terluka dan menuduh pemimpin denominasi lainnya sebagai “pencuri domba”. Kenyataan yang sebenarnya adalah seorang pemimpin mencuri domba-domba dari tangan Tuhan Yesus dan kemudian domba-domba curiannya dicuri lagi oleh pemimpin lain. Perihal curi-mencuri ini bisa berlarut-larut sehingga barangkali ini penggenapan Matius 21:13, “… RumahKu akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Mungkin kita masih dapat berbicara banyak mengenai perbuatan para pemimpin yang menarik murid-murid Tuhan sehingga mengikuti mereka dan tidak lagi mengikuti anak domba kemana saja Ia pergi, tetapi untuk saat ini cukuplah uraian kita. Yang jelas kita paham penyebab kejatuhan gereja yaitu karena perbuatan pada pemimpinnya.

Tetapi tidak demikian halnya dengan komunitas kerajaan. Walaupun gereja telah jatuh kedalam ribuan denominasi, Tuhan tetap memiliki orang-orangNya yang tidak ikut ambil bagian dalam kejatuhan gereja. Disepanjang zaman Tuhan tetap memiliki sekelompok orang menurut pilihan kasih karunianya, yang mengikut Anak Domba kemana saja Ia pergi serta mencari dan memperoleh kerajaan sorga. Sekelompok orang inilah yang kita sebut komunitas kerajaan. Komunitas inilah yang diberi simbol perempuan di Wahyu 12, khususnya komunitas kerajaan di akhir zaman menjelang manifestasi putra-putra Bapa. Menjelang kedatangan Tuhan yang semakin dekat, di abad ke 21 ini, simbol perempuan di Wahyu 12 akan semakin tampil dengan jelas dimuka ubmi ini. Suara Roh yang berkata, “Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya”, akan semakin menggema di akhir zaman ini (Wahyu 18:4). Dan orang-orang yang dikarunia oleh Bapa akan mendengar dan mentaatinya. Inilah waktunya bagi umat kerajaan untuk bangkit dan berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”.

MISTERI KERAJAAN SORGA

Kerajaan sorga memang suatu misteri, karena kebenarannya memang tersembunyi. Yesus pernah berkata dalam Matius 11:25-26 sebagai berikut, “… Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu.” Selanjutnya Tuhan berkata, “… berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya”. (Matius 13:16-17).

Apabila seseorang melihat kebenaran kerajaan sorga, maka itu semata-mata karena Bapa berkenan kepadanya. Walaupun memang cara Bapa untuk mencelikkan mata anak-anakNya adalah melalui disiplin dan banyak kesengsaraan, tetapi semua itu tetap merupakan kasih karunia. Saudara Preston Eby pernah berkata bahwa ia tidak pernah mengkritik dan menghakimi seorangpun. Alasannya adalah karena seseorang tidak mungkin melihat dan memahami, kecuali Bapa menyingkapkannya. Dan Bapa menyingkapkannya kepada siapa Ia mau melakukannya.

Uraian mengenai komunitas kerajaan bukanlah sesuatu yang asing dan baru bagi “orang-orang kecil” didalam Matius 11 diatas. Berbahagialah kita karena Bapa telah menyingkapkannya. Terpujilah NamaNya, Amin.