Dalam tulisan singkat ini kita akan melihat apa sebenarnya sistem keagamaan dan kerajaan itu. Banyak orang kristen yang sudah sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus dan lahir baru, tetapi memiliki pemahaman dan konsep yang sangat samar-samar tentang sistem keagamaan dan kerajaan. Bahkan banyak yang mencampur-adukkan kedua istilah tersebut dan menyebutnya gereja.
Kekacauan ini terjadi karena hampir di setiap mimbar-mimbar “gereja” hari Minggu, tidak pernah diberitakan Injil Kerajaan. Pada umumnya yang diberitakan adalah “Injil” yang menyenangkan telinga. Fokus pemberitaannya adalah berkat jasmani dengan secara samar-samar menyebut berkat rohani. Firman Tuhan seperti, “untuk masuk kedalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”, atau “masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya”, atau “bukan setiap orang yang berseru kepadaKu : Tuhan,Tuhan ! akan masuk kedalam kerajaan sorga …,” atau “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang merupakan tekanan dalam pengajaran Yesus dan rasul-rasulNya, HAMPIR TIDAK PERNAH DIURAIKAN DAN DIJELASKAN. Tidak heran apabila jemaat tidak memahami kerajaan, apalagi berusaha mendapatkannya.
Sementara itu kita melihat bahwa baik Yohanes Pembaptis maupun Tuhan Yesus memberitakan kerajaan sorga. Pengajaran Yesus adalah pengajaran kerajaan sorga. Bahkan setelah kebangkitanNya,” … Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis 1:3). Para rasul terutama Paulus juga memberitakan kerajaan sorga. Sampai akhir pelayanannya, ia terus memberitakan kerajaan Allah (Kis 28:31). Itu sebabnya kata kerajaan sorga atau kerajaan Allah muncul hampir 160 kali didalam Perjanjian Baru, sedangkan kata gereja ada + 113 kali. Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan pengajaran kerajaan sorga, tetapi hanya menguraikan sekilas mengenai perbedaan antara gereja, sistem keagamaan dan kerajaan.
Sistem adalah kelompok berbagai sesuatu dimana setiap sesuatunya saling berkait dengan aturan main tertentu. Kata dunia (kosmos) didalam Alkitab, salah satunya berarti sistem. Kalau Alkitab berkata, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya”. Itu berarti janganlah kamu mengasihi sistem yang berlawanan dengan Tuhan. Ekonomi, pendidikan, politik, dan lain-lain didalam dunia ini telah menjadi sistem. Ini bukan berarti kita harus menjauhi segala sesuatunya dan hidup sendiri di hutan, melainkan jangan kita dikuasai dan hidup didalam sistem dunia. Didalam Alkitab, Mesir melambangkan dunia (sistem). Israel sebagai umat pilihan Tuhan harus beribadah diluar sistem tersebut.
Kalau demikian apakah artinya sistem keagamaan ? Apakah agama telah menjadi sistem? Kalau benar agama telah menjadi sistem, bagaimana sampai terjadi demikian ? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlu dicari jawabnya didalam Alkitab.
Sejarah mencatat bahwa setiap gerakan yang dimulai oleh Allah, pada akhirnya menjadi sistem. Kita ambil contoh dalam Perjanjian Lama. Kembalinya Israel dari pembuangan Babel adalah gerakan Allah. Zerubabel, Ezra dan Nehemia adalah pemimpin-pemimpin yang digerakkan Allah pulang ke Yerusalem. Tetapi + 400 tahun kemudian, kelompok orang yang pulang dari pembuangan Babel telah menjadi sistem (disebut Yudaisme). Kepada sistem keagamaan inilah Yesus dan Yohanes Pembaptis menyerukan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat !” Dan perlu kita ingat bahwa sistem keagamaan ini yang telah menyalibkan Yesus. Pilatus sendiri (yang melambangkan sistem politik pada waktu itu) telah bermaksud membebaskan Yesus. Saudara jangan heran kalau saya berkata bahwa kadang-kadang sistem politik lebih baik dari pada sistem keagamaan. Yesus sendiri berkata, “ … dia, yang menyerahkan Aku kepadamu (Pilatus), lebih besar dosanya” (Yoh 19:11). Yesus menyebut sistem keagamaan sebagai “angkatan yang jahat dan tidak setia …” (Mat 12:39). Dan khotbah pertama Petrus adalah, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini” (Kis 2:40).
Kita lihat bahwa gerakan keluarnya Israel dari Babel yang pada mulanya murni berasal dari Allah, telah menjadi sistem beberapa abad kemudian. Demikian juga dengan gerakan yang dimulai olehYesus dan rasul-rasulNya, tidak berapa lama kemudian menjadi sistem keagamaan. Gerakan-gerakan Allah yang dimulai dari Martin Luther, John Wesley dan gerakan yang paling akhir ini, juga telah menjadi sistem keagamaan. Mengapa sesuatu yang pada mulanya berasal dari Allah, pada akhirnya berakhir dengan tragis ?
Tetapi perlu kita ingat bahwa akhir yang tragis ini hanya dapat dilihat oleh mata rohani. Orang kristen, sekalipun sudah lahir baru, tetapi dikuasai mata jasmani, tidak dapat melihat akhir yang tragis ini. Gerakan yang dimulai Yesus dan rasul-rasulNya dimana pada akhirnya “menaklukkan” kerajaan Romawi (tahun 313) dipandang mata jasmani sebagai sukses besar. Kalau kita ingat bagaimana Zerubabel, Ezra dan Nehemia ketika merintis pekerjaan Tuhan di Yerusalem dimana pada waktu itu Yerusalem hancur lebur, setelah 400 tahun kemudian memiliki Bait Allah yang megah, mahkamah agama yang berpengaruh dan organisasi yang baik; maka mata jasmani akan melihat ini sebagai sukses besar. Tetapi Yesus menamai “kemegahan” ini sebagai, “… kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran”.
Kembali kita bertanya, mengapa sesuatu yang berasal dari Allah, berakhir dengan tragis ? Jawabnya sederhana saja yaitu kedagingan manusia selalu mengambil untung bahkan dari gerakan Allah sekalipun. Apabila kedagingan yang mau mengambil masuk kedalam gerakan Allah, maka tidak lama kemudian gerakan itu menjadi sistem. Kita melihat orang-orang kristen di Galatia yang mulai dari Roh tetapi mengakhirinya didalam daging (Gal 3:3).
Tetapi kedagingan apakah yang secara khusus telah menjatuhkan gerakan yang dimulai oleh Yesus dan rasul-rasulNya ? Paulus menyebut kedagingan jenis ini sebagai “serigala-serigala yang ganas” yaitu keinginan untuk menarik murid-murid dari jalan yang benar agar mengikuti mereka (Kis 20:30). Artinya keinginan untuk berkuasa, untuk mengatur kehidupan orang lain, untuk berotoritas atas orang lain. Keinginan untuk berkuasa ini amat tersembunyi didalam, seringkali dibungkus dengan motif-motif yang baik. Tetapi bagaimanapun bentuk luarnya, sebaik apapun maksud-maksud itu, Alkitab tetap menyebut kedagingan jenis ini sebagai serigala yang ganas.
Mengapa Alkitab menyebut kedagingan jenis ini sebagai serigala yang ganas ? Jawabnya karena kerusakan yang ditimbulkan kepada Tubuh Kristus sangat serius. Tubuh Kristus dicabik-cabik, sebagian umat mengikuti pemimpin ini, sebagian lagi mengikuti pemimpin itu. Persis seperti serigala menerkam kawanan domba hingga cerai berai. Dan perlu kita ingat lagi bahwa kedagingan ini dapat bersembunyi didalam orang yang sangat kudus sekalipun.
Sejarah mencatat seorang bernama Ignatius ( tahun 117) dipandang sebagai yang pertama mengajarkan perbedaan antara para penatua dan bishop. Ignatius ini seorang pemimpin gereja di Antiokhia (Siria) mati martir dibawah kaisar Trajan. Ia menulis surat-surat dalam perjalanannya ke Roma untuk mati martir disana. Saya akan mengutip bagian-bagian dari suratnya yang mengungkapkan sesuatu yang sangat tersembunyi didalam kedagingan manusia yaitu keinginan untuk berkuasa1. Saya akan mengutip bahasa Inggrisnya, agar saudara mendapat arti yang lebih jelas.
Ignatius adalah seorang pemimpin yang mengikut Tuhan sampai mati martir di Roma, tetapi melalui pengajarannya ini Tubuh Kristus jatuh kedalam pemerintahan manusia dengan segala hierarki dan organisasinya. Ketika gerakan yang dimulai Tuhan Yesus dari rasul-rasulNya telah menjadi organisasi yang kokoh, maka dimulailah suatu zaman yang biasa disebut zaman kegelapan gereja. Tetapi Tuhan tetap memiliki orang-orang pilihanNya yang tidak mengikuti kegelapan gereja.
Jadi, melalui kedagingan manusia (keinginan untuk berkuasa), gerakan yang dimulai oleh Roh lambat laun membusuk dan menjadi sistem yang menentang bahkan membunuh Tuhan Yesus. Sungguh sangat tragis ! Berbahagialah mata yang melihat pembusukkan ini dan tidak mengambil bagian didalamnya. Sudahkah saudara melihat apa itu sistem keagamaan dan proses terjadinya ?
Timbulnya sistem keagamaan telah dinyatakan Tuhan kepada rasul Yohanes didalam kitab Wahyu. Karena kitab Wahyu memakai bahasa simbol, maka sistem keagamaan mendapat simbol perempuan pelacur di Wahyu 17. Kita tidak akan menguraikan Wahyu pasal 17 dalam tulisan ini, tetapi kita akan sedikit menguraikan simbol perempuan di Wahyu pasal 12.
Perempuan di Wahyu pasal 12 tentu saja melambangkan gereja. Tetapi gereja yang seperti apa ? Dinyatakan pada ayat 1 bahwa perempuan ini memakai mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Karena bintang menggambarkan utusan jemaat (1:20) dan angka 12 menggambarkan pemerintahan ilahi, maka perempuan ini adalah gereja dibawah suatu pemerintahan ilahi. Gereja ini dipimpin oleh “bintang-bintang” sedemikian sehingga membentuk pemerintahan ilahi. Tentu kita bertanya, adakah gereja yang seperti ini ? Sudah pasti ada ! Tetapi ia tidak dapat dilihat oleh mata jasmani, karena perempuan ini ada di alam “langit” (ayat 1, artinya alam roh).
Seandainya gerakan yang dimulai oleh Tuhan Yesus dan para rasul tidak jatuh menjadi sistem keagamaan, tentu hanya ada satu perempuan di kitab Wahyu. Tetapi karena gereja sudah jatuh, maka kita lihat ada 2 perempuan dikitab Wahyu. Perempuan di Wahyu 12 adalah perempuan yang melahirkan umat kerajaan (umat pemenang), sedangkan perempuan di Wahyu 17 justru akan hancur pada waktunya. Kehancuran perempuan di wahyu 17 sesuai dengan nubuat Tuhan Yesus terhadap Bait Allah sistem keagamaan Yahudi (Yudaisme) di Matius 24:2 Sebagaimana Bait Allah jasmani dihancurkan oleh Titus pada tahun 70, demikian juga “Bait Allah” sistem keagamaan Wahyu 17 akan dihancurkan pada waktunya.
Diharapkan melalui uraian yang singkat diatas, kita telah melihat apa itu gereja. Dalam satu pengertian tertentu, memang gereja adalah semua orang yang telah percaya Tuhan dan lahir baru. Didalam Kisah para rasul gereja adalah kumpulan orang yang percaya yaitu roh, jiwa dan tubuhnya. Karena itu gereja di Kisah para rasul dapat dilihat dengan mata jasmani. Setidaknya sampai tahun 63 (penulisan kitab kisah para rasul), konsep gereja sangat mudah dimengerti. Gereja adalah kumpulan orang percaya dan nama gereja sesuai dengan nama kota tempat tinggal kumpulan orang percaya tersebut. Jadi ada gereja di Korintus, Yerusalem, Antiokhia dan seterusnya.
Tetapi setelah kepada rasul Yohanes, pada + tahun 90, diwahyukan kejatuhan gereja sehingga gereja mendapat dua simbol di kitab Wahyu yaitu perempuan Wahyu 12 dan perempuan Wahyu 17, maka memahami gereja menjadi tidak mudah. Diperlukan suatu kondisi tertentu untuk dapat melihat apa itu gereja yaitu kondisi “dikuasi oleh roh” (Wah 1:10). Jadi saat ini gereja tidak dapat lagi dilihat oleh mata jasmani. Yang terlihat oleh mata jasmani bukanlah gereja.
Kalau demikian, apakah kerajaan sorga itu ? Istilah kerajaan sorga dan kerajaan Allah adalah dua istilah dengan satu pengertian yang sama. Kerajaan sorga adalah suatu kerajaan yang ada di alam sorga (roh), sedangkan kerajaan Allah adalah suatu kerajaan milik Allah. Jadi sejak semula kerajaan sorga tidak terlihat oleh mata jasmani. Itu sebabnya Yoh 3:3 katakan bahwa seseorang harus dilahirkan kembali sebelum dapat melihat kerajaan Allah. Selain dilahirkan kembali, seseorang juga harus mengalami banyak sengsara untuk masuk dan mewarisi kerajaan Allah (Kis 14:22). Ini bukanlah kesengsaraan yang umumnya dialami oleh setiap manusia, tetapi ini adalah kesengsaraan karena tangan Tuhan membentuk kita (Ibrani 12:11).
Tidak semua orang yang telah lahir baru akan mendapat dan mewarisi kerajaan sorga, “sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Sering kita mendengar ungkapan, “percaya Yesus masuk surga’. Bahkan sering ditambah dengan embel-embel dapat mobil, rumah, teman hidup, kesehatan selama di dunia ini dan setelah mati, masuk sorga. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa sorga adalah tempat yang maha indah dengan jalan-jalannya yang dari emas dan kita akan nyanyi terus memuji Tuhan sampai selama-lamanya … Persis seperti dongeng anak-anak, “mereka berbahagia sampai selama-lamanya …”.
Tetapi sorga model dongeng anak-anak bukanlah sorga yang ditawarkan Yesus dan diuraikan oleh Alkitab. Sorga yang diuraikan Alkitab adalah berbentuk kerajaan dan dapat di alami saat ini juga apabila kita telah mendengar suara Tuhan, “Janganlah takut hai kamu kawanan kecil ! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu” (Luk 12:32). Didalam sorga ini kita berfungsi sebagai raja-raja dan imam-imam untuk memperdamaikan segala sesuatunya kepada Bapa sampai musuh terakhir dibinasakan yaitu maut sehingga Bapa menjadi semua didalam semua (I Kor 15:26-28). Jadi sekalipun tidak dapat dilihat mata jasmani tetapi kerajaan sorga adalah realita saat ini.
Setelah seseorang percaya Tuhan dan lahir baru, ia otomatis menjadi anggota gereja. Ini barulah langkah awal sebelum mendapat dan mewarisi kerajaan sorga. Sama seperti seseorang yang mendaftarkan diri masuk sekolah, ia tidak langsung dinyatakan lulus dan mendapat ijazah. Tetapi ia perlu belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh serta melewati ujian demi ujian, sebelum dinyatakan lulus dan mendapat ijazah. Demikian juga dengan orang yang telah percaya Tuhan dan lahir baru, ia perlu mengalami proses disiplin sampai pada waktunya ia dinyatakan lulus.
Ada saatnya dimana Roh Kristus bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah Putra Bapa. dan kalau Putra, tentu mewarisi sesuatu dari Bapa. Sesuatu itu adalah kerajaan sorga. Tidak perlu mati dahulu, baru masuk “surga”. Saat ini juga kita dapat hidup didalam realita kerajaan sorga. Satu hal perlu kita perhatikan sebagai penutup. Kita harus hati-hati terhadap sistem keagamaan. Yesus memperingati murid-muridNya agar berhati-hati terhadap pengajaran orang-orang Farisi. Mengapa demikian ? Sebab mereka seringkali menutup pintu-pintu kerajaan sorga didepan orang” (Mat 23:13). Selain mereka sendiri tidak masuk, juga mereka merintangi orang yang berusaha masuk (ayat 14).
1 The Apostolic Fathers (1956) oleh J.B Lightfoot.